Apakah kau pernah
jatuh cinta diam-diam?
Menyukai seseorang
tanpa suara. Menatap dari kejauhan. Atau berusaha keras menyembunyikan debar
agar tak terdengar?
Diam-diam. Dan
parahnya, kau seperti, seolah, merasa, dia juga terlihat menyukaimu. Kau bahkan
tak tahu, apakah itu nyata atau semu. Yang kau tahu, kau menyukainya.
Kau jatuh cinta
sendirian.
Dan itu sudah
cukup membuat harimu menjadi merah jambu.
I think that’s
possibly maybe am falling for you.
Jatuh cinta itu
sesuatu yang tiba-tiba. Tak perlu rencana. Aku menduga, orang yang berpikir
ketika jatuh cinta, sebenarnya bukan jatuh cinta. Ia justru sedang berusaha
jatuh cinta, menemukan alasan untuk menyukai. Dan beranggapan, alasannya cukup
masuk akal.Something that makes you think, well it’s worth falling in love with
them.
Then, I thought,
you were not falling.
Kau tidak pernah
merencanakan untuk jatuh. Kau juga tak akan bermimpi terpeleset kulit pisang di
tengah jalan lalu terjatuh. Semuanya terjadi begitu saja. Begitulah jatuh
cinta. seperti terpeleset. Tanpa alasan. Tanpa kau tahu mengapa. Ia mengintai
menunggu saat yang tepat dan mungkin saat logikamu lengah. Mendadak kau sadar,
ya, kau telah jatuh cinta ketika matamu berkedip.
Aku jatuh cinta
kepadanya di pinggir lapangan sepak bola kampus. Di tengah rintik hujan yang
sepertinya enggan untuk turun deras, tapi juga tak mau kalau hanya sekilas.
Aku jatuh cinta
kepadanya, tak lebih dari satu kedipan mata. Ketika mata kami saling berserobok
tak sengaja saat menunggu hujan reda. Itu hanya sekian detik, namun sampai hari
ini, aku masih bisa mengingat bagaimana ujung alis mata kanannya berjengit dan
bola matanya berkilat usil.
‘Jangan suka
ngeliatin mata cowok dengan tatapan setajam itu,’ ujarnya sambil tersenyum
usil. Aku tahu, ini pertama kalinya kami saling bertatapan dalam diam, tanpa
gelak tawa seperti biasanya. Suaranya lirih, hanya cukup terdengar oleh kami
berdua, di antara gemuruh air hujan yang menimpa atap seng peneduh di pinggir
lapangan bola.
Aku tersenyum.
Membuang tatapan ke depan. Coba menyimak percakapan kawan-kawan yang duduk di
depan kami.
‘Coba kamu
sering-sering senyum,’ sambungnya. Aku menoleh, menautkan kedua alis tanda
bertanya. ‘Kamu lebih manis kalau senyum seperti tadi.’ Ia mengisap rokoknya
dalam tanpa melihat ke arahku. Lalu, larut dalam percakapan kawan-kawan yang
lain.
Hari itu, di balik
punggung kawan-kawanku, aku jatuh cinta kepada salah satu teman dekatku.
Diam-diam.
Sendirian.
***
Aku menyimpan
cerita dan rasa itu rapat-rapat. Tak ada satu pun teman karib yang tahu. Bahwa
dalam persahabatan kami yang ibarat serial televisi ‘Beverly Hills’, aku pernah
jatuh cinta kepada salah satu di antara mereka.
Orang yang jatuh
cinta diam-diam, seperti kata Raditya Dika dalam Marmut Merah Jambu (MMJ),
harus bisa melanjutkan kehidupannya dalam keheningan.
Di antara tawa
kami sebagai sekelompok teman dekat, tiba-tiba hening itu bisa hadir.
Menyelusup tanpa dikendaki. Seperti ketika aku jatuh cinta begitu saja
kepadanya. Berada di dekatnya, kadang membuatku kikuk. Merasa dekat, sekaligus
berjarak. Kadang, ada saat di mana kami bisa tak berbicara sama sekali walaupun
duduk bersebelahan. Saling memunggungi dan sibuk berbicara dengan yang lain.
Aku dengan tawaku. Dia dengan kelakarnya. Padahal, kami ada di tempat yang
sama, dalam kelompok yang sama. Dan bermain bersama.
Satu ketika,
seperti hari-hari sebelumnya, setiap malam minggu, setelah masing-masing
mengapeli pacarnya, kami semua akan berkumpul di rumahku.
Malam itu, dia
datang lebih dulu. Satu jam lebih awal dibandingkan yang lainnya. Aku ingat,
percakapan yang kami pilih malam itu, siapa nama yang pantas untuk burung kakak
tua pacarnya.
‘Jadi burung kakak
tua itu aku namai kamu,’ katanya tertawa.
‘Enak aja. Namain
aja nama kamu sendiri, atau nama pacar kamu,’ sanggahku
‘Tapi burungnya
mirip kamu. Cerewet.’ Dia mengatakan itu sambil tersenyum kalem. Dia tidak
pernah tahu, saat itu sebenarnya aku ingin bilang, ‘Kamu juga manis kalau
senyum kayak gitu.’
Sampai hari ini,
dia tak pernah tahu kalau aku menyukai senyumnya dan juga matanya yang berkilat
usil.
Terlebih lagi, dia
pun tetap tak pernah tahu, kalau aku pernah jatuh cinta diam-diam. Kepadanya.
Begitulah. Sebuah
rasa yang disimpan diam-diam membuat kami menjauh dalam jarak yang begitu
dekat.
***
Pada akhirnya,
orang yang jatuh cinta diam-diam, hanya bisa mendoakan, kata Raditya Dika. Aku
mungkin harus bersepakat dengan Raditya Dika kali ini. ‘Orang yang jatuh cinta
diam-diam, pada akhirnya menerima.’
Menerima bahwa
semuanya memang baik seperti ini. Bahwa kenyataan kadang tak sesuai yang ada
dalam angan. Setelah sekian lama tak bertemu, pada pertemuan kami yang tak
rencana, dia muncul di depanku.
Tak diharapkan.
Tak diundang.
‘Aku yang kasih
tahu dia kalau kamu datang!’ kata salah satu kawanku. Aku lupa fakta itu. Kami
semua tetap berteman. Tanpa ada yang tahu, aku pernah jatuh cinta kepadanya.
‘Kamu apa kabar?’
tanyanya sambil tersenyum. Ia berdiri di hadapanku. Tersenyum sambil menatap
tajam. Tiba-tiba, aku seperti kembali ke pinggir lapangan sepak bola beberapa
tahun lalu. Bedanya, kali ini dia di depanku, bukan di sampingku. Senyumnya tak
berubah. Tatapannya juga masih sama.
Tatapan yang membuat
aku jatuh cinta dalam satu kedipan kelopak mata.
Kembali kami
berkumpul di pinggir lapangan bola. Mengenang hari-hari lalu. Aku dan dia pun
tetap seperti dulu. Dalam keramaian, tiba-tiba aku tetap merasa ada keheningan
masuk kembali di antara kami. Di antara gelak tawa bersama, ketika punggung
kami bertemu, dengan merendahkan suara ia bertanya, ‘Apakah Arie* sudah bilang
kalau dia suka kamu?’ tanyanya tiba-tiba.
Aku tercekat.
Arie* adalah salah satu teman baik kami. Sahabatnya. Sahabatku. Tanpa membalikkan
badan, aku menjawab, ‘Dia tidak pernah bilang.’
Aku merasa sesuatu
menyentuh bagian belakang tubuhku. Dia menyandarkan punggungnya ke punggungku.
‘Dia menyukai kamu. Tapi sepertinya, dia memilih diam.’
Lalu, kami kembali
hening. Membiarkan punggung yang berbincang.
***
Pada akhirnya,
jatuh cinta bisa memunculkan keragu-raguan dalam diri setiap manusia,
menebak-nebak dalamnya hati seseorang. Dan berharap, ada kita di sana. Pada
kenyataanya, kita bisa jadi sedang jatuh cinta sendirian.
Raditya Dika,
lewat MMJ, mengingatkan kita kepada rasa itu: keraguan yang kita lakukan ketika
jatuh cinta. Kali ini, saya tak hendak menyebutnya kebodohan. Tapi, apa yang
dilakukan Radit di dalam MMJ buat saya adalah keragu-raguan yang melankolis
sekaligus kontemplatif, hebatnya lagi dibalut komedi. Ragu-ragunya orang yang
sedang jatuh cinta. Keraguan yang membuat kita memilih tidak menyampaikan rasa
kita. Atau ragu-ragu untuk melanjutkan hubungan yang sudah dibina.
Namun, menulis
memang adalah seni memilih sudut pandang, Radit—terlepas dari profesi saya
sebagai seorang editor—menikmati cara Raditya Dika memilih sudut pandang pada
tiap ceritanya. Di sini, silakan bagi Anda yang menyukai lelucon kasar dan
seksis, untuk kecewa. Anda tak akan menemukan cerita lucu yang seperti itu. MMJ
akan mengajak Anda tertawa kecil. Mungkin bisa terkikik geli, tetapi sambil
tetap menyimpan rapat-rapat apa yang ada di dalam hati. Buku ini mengajak Anda
tertawa dalam diam. Tapi juga bisa sebaliknya, diam dalam tawa geli Anda.
MMJ mengajak Anda
merayakan kegelisahan yang absurd tadi: jatuh cinta.
Anda bisa tetap
memilih ragu dan diam. Atau mengambil langkah berani membaginya.
Saya termasuk
orang yang percaya, tulisan yang baik adalah tulisan yang membuat pembacanya
ingin menulis apa yang dia rasakan.
Dan saya,
menyukai rasa yang
ditinggalkan si marmut berwarna merah jambu ini.
Jakarta, 27 Mei
2010
*) bukan nama
sebenarnya.
*) picture taken
from gettyimages.com
*) windy ariestanty