Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, February 18, 2011

Bermakna Dan Siap Memaknai !

Bangun pagi lalu kubuka jendela kamarku, menyalakan computer dan leptopku. Menunggu loading, dengan mata sedikit belum terbuka. Kemudian aku mencoba berjalan ke dapur dan mengambil segelas air minum. Haus rasanya setelah bermimpi setengah hari. Sambil berkali-kali aku menguap.

Pagi ini tampaknya udara segar, langit biru, dan suara burung yang berkicau alangkah merdunya. Kucoba mengirup udara segar itu dalam-dalam. Mensyukuri, bahwa hari ini aku masih diberi kesehatan dan masih diberi kesempatan untuk melihat keponakanku yang lucu, serta ayah dan ibuku.

Dengan posisi tengkurap sambil memainkan leptop dan menghadap ke arah jendela yang terbuka, kulihat kupu-kupu yang sedang ingin bermetamorfosa di luar taman rumah. Kebetulan taman itu berseblahan dengan kamarku, jadi ketika boring aku selalu ingin melihat taman melalui jendela kamarku. Inilah posisi yang menurutku sangat nyaman pada saat ini

Kamu tau apa yang sedang aku pikirkan? Tepat! Aku ingin seperti kupu-kupu itu, menjalani sebuah metamorfosa hidup, yang tidaklah begitu mudah. Dan tiba-tiba terlintas dalam pikiranku untuk memahami sebuah arti kehidupan.

Apa aku seperti gadis yang kurang mensyukuri? Apakah aku terlalu banyak mengeluh? Apakah sebuah kesalahan, orang ingin menjadi lebih baik lagi dalam hidupnya? Sebetulnya hidup itu apa menurutmu? Ok, aku akan membahas kehidupan menurut versiku, setelah membaca beberapa artikel dan buku tentang sebuah kehidupan :

-ooOoo-

Kehidupan

Ada banyak penafsiran orang tentang kehidupan di dunia yang fana ini. Ada yang menafsirkan hidup adalah perjuangan, hidup adalah perbuatan, hidup adalah panggung sandiwara, dll. Kehidupan berbeda dengan hidup. Hidup bisa diartikan aktif, bernafas, dan bergerak. Kehidupan adalah jalan yang dituju dan dijalani seorang manusia selama hidupnya. Terkadang orang berpikiran sempit dengan memandang kehidupan dari satu sisi saja.

Kehidupan bukan berapa lama anda hidup, tapi seberapa bermakna hidup anda, bagi kehidupan orang lain…

Sudah lama manusia mencoba mendefinisikan kehidupan. Apa dan bagaimana sebenarnya kehidupan itu. Dengan menemukan definisi kehidupan, disitu manusia akan menemukan bermacam hikmah kebijakan yang ada di dalamnya.

Lantas kita pun menemukan ada banyak istilah dan pepatah tentang kehidupan ini. Semua berasal dari hasil perenungan mereka. Ada yang mengatakan hidup ini adalah sebuah perjuangan, karena ia melihat bahwa hidup senantiasa membutuhkan perjuangan dan kerja keras bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang lebih baik.

Ada pula falsafah jawa yang mengatakan bahwa ”urip mung mampir ngombe”. Dalam sebuah perjalanan panjang, hidup hanya sekedar mampir minum. Karena ia melihat bahwa kehidupan di dunia ini hanya sangat sebentar dibandingkan kehidupan di akhirat nanti. Maka ia menggambarkan bahwa hidup itu hanya mampir minum, sebelum kembali meneruskan perjalanan menuju Rabb-Nya.

Lain lagi dengan yang mengatakan bahwa hidup tak lebih dari sekedar penderitaan, karena ia melihat bahwa manusia lebih banyak berada dalam penderitaan mereka daripada kesenangannya. Bagaimana manusia menghabiskan lebih banyak waktu berlumur keringat hanya untuk mempertahankan hidup mereka. Maka mereka pun mendefinisikan bahwa hidup ini adalah penderitaan.

Hidup itu layaknya sebuah buku. Kita lahir sebagai sebuah buku putih, bersih. Kemudian orang tua kita, merekalah yang mula-mula menulisi kita. Seiring bertambah usia, kita pun perlahan diajari bagaimana menulis buku kehidupan. Perlahan kita diajarkan menulis sendiri kehidupan kita. Hingga suatu waktu, kita pun dilepas untuk bisa menulis buku kehidupan kita sendiri. Maka disinilah seorang manusia mulai dilepas untuk mandiri.

Kita pun mulai menulis kehidupan kita masing-masing. Ada yang menulis dengan tulisan-tulisan yang baik, ada pula yang buruk. Masing-msaing mencoba menulis dengan cara mereka sendiri. Namun, kita pun sebenarnya telah diberi sebuah pedoman dalam menulis. Pedoman itu berupa ayat-ayat Sang Pencipta. Pihak yang memberi buku kosong dan yang akan menerbitkan buku kehidupan kita. Dialah yang akan menerbitkan buku kehidupan kita.

Adakalanya sekelompok manusia –entah karena kebodohan dan kesombongannya- mereka tak mau menggunakan panduan tersebut. Mereka lebih memilih untuk membuat dan menggunakan ”panduan-panduan” lainnya. Ada pula yang tak sadar bahwa buku yang mereka tulis suatu saat akan diterbitkan sang Penerbit. Sehingga mereka pun terus dan terus menulis semau mereka. Tak peduli tulisan itu baik atau buruk, yang penting mereka bisa senang dalam buku kehidupan mereka. Sehingga tentu saja tulisan mereka yang tidak ada yang sesuai dengan keinginan Penerbit. Penerbit pun terkadang marah dan merobek-robek buku tersebut menjadi kepingan-kepingan adzab.

Suatu ketika Penerbit coba menguji kita, dengan membuat coretan-coretan kotor dan mengganggu saat kita sedang menulis. Ingin tahu, akankah kita masih bisa untuk menulis kebaikan dalam lembar-lembar kehidupan kita. Terkadang ia menguji dengan kepayahan, terkadang pula menguji dengan kesenangan yang melenakan kita dari menulis kebaikan.

Adakalanya, tak jarang kita disuruh membaca buku-buku kehidupan manusia lain. Baik yang telah selesai ditulis, atau pun yang masih sedang ditulis. Entah sekedar mengambil hikmah, atau pun untuk kita jadikan referensi. Tak jarang kita mencontek dari buku-buku tersebut karena menurut kita, isi buku tersebut lumayan bagus dan layak jika ada di buku kehidupan kita.

Suatu saat, buku kita pun selesai ditulis. Sang Penerbit pun mereview hasil tulisan kita. Jika tulisan kita buruk, maka tulisan tersebut takkan layak cetak. Sang penerbit pun marah pada si Penulisnya. Dan sebaliknya jika tulisan kita baik, maka kita pun mendapat pujian dan imbalan yang baik.

Inilah hidup, kita lahir dalam keadaan buku putih bersih, di lembar-lembar awal kita akan ditulisi oleh orang tua kita, diajarkan tentang cara-cara menulis, hingga kemudian kita menulis sendiri buku kehidupan kita. Pada suatu saat, kita selesai menulis buku tersebut, dan pada saat itu, semua tulisan kita akan direview oleh sang Pencipta.

-ooOoo-

Begitulah definisi tentang kehidupan yang aku ketahui. Dan segala permasalahan yang menimpaku, kini membuat cara pandang baru dalam kehidupan yang akan aku jalani selanjutnya, sehari-hari. Umurku 22 tahun, tapi mungkin cara berfikirku mendadak tiba-tiba berubah menjadi 32 tahun lebih tua. Asal muka tidak ikut menjadi tua. Hhe.. :D

Kalian pernah mendengar tentang “Transformasi Diri”? Yaa.. mungkin aku sedang mejalani itu. Suatu ketika, aku yang sedang dilanda permasalahan, sedikit mencoba untuk mengalihkan pikiranku ini ke hal yang lebih positif. Agar feedback yang aku dapatkan, dapat lebih baik lagi untuk diriku. Aku mencoba mendatangi berbagai toko buku, tiba-tiba aku tertarik pada salah satu buku. Buku itu berjudul “The Secret”, dengan cover sampul berwarna cokelat, setiap lembar halamannya lumayan tebal dan menjelaskan tentang “Transformasi Diri”. Ini yang membuatku tertarik ketika menjumpainya pertama kali di toko buku Gramedia. Hingga pada akhirnya sahabat terbaikku memberikan buku itu kepadaku. Dan tertulis

“Get well soon my bestie. Miss and love you. Don’t stop believing”. Buku ini untukmu, dari dulu aku ingin memberikan buku ini kepada seseorang yang mampu mengaplikasikannya secara nyata dan aku belum tau siapa? Dan aku rasa saat ini kamulah orang yang tepat untuk buku ini.

Ketika melihat tulisan dan sebuah pesan yang dia berikan sewaktu chatt pada malam itu, membuatku meneteskan air mata. Terimakasih…

-ooOoo-

Buku “The Secret”, menerangkan pentingnya berpikir positif dalam proses manifestasi apa saja yang ingin kamu peroleh. Pikiran menentukan apa yang kamu ucapkan atau tindakan yang kamu lakukan.

Secara alamial proses berpikir ini terjadi sangat cepat dan terus-menerus sehingga seringkali ucapan atau tindakan kita keluar begitu saja tanpa kontrol. Akibatnya seringkali bukannya sukses yang didapat tapi justru kegagalan yang terjadi. Di artikel ini, aku ingin mengingatkan pentingnya memperhatikan kata-kata yang kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Dalam proses transformasi diri, kamu bisa mengubah persepsi atau emosimu terhadap suatu kejadian dengan menggunakan kata-kata yang berbeda.

Kata Bermakna Ganda

Kata yang sangat populer digunakan orang tapi sebetulnya merugikan secara mental adalah kata ”mencoba”. Kata ”mencoba” memberikan kesan seolah-olah sesuatu akan terjadi tapi sebetulnya tidak. Apa yang ada dibenakmu ketika aku bilang, ”Aku coba perbaiki mobil kamu”. Kemungkinan besar aku tidak akan memperbaiki mobilmu atau mobilmu tidak akan pernah betul meskipun aku sudah mencoba berbagai macam cara untuk memperbaikinya.

Kata mencoba tidak menggambarkan intensi atau niat kamu untuk mengambil tindakan. Paulo Coelho dalam bukunya The Alchemist mengatakan, ”Alam semesta berkonspirasi membantu mereka yang memiliki niat kuat untuk memperoleh apapun yang mereka inginkan”. Alam semesta akan ”kebingungan” mencari tahu apa sebetulnya yang kamu inginkan kalau kamu menggunakan kata ”mencoba”.

Kata lain yang sering kita gunakan adalah ”mungkin”. Kata ”mungkin” menggambarkan ketidakpastian dan ketidakyakinanmu untuk melakukan apa yang kamu mau. Apa yang ada dibenakmu apabila aku mengatakan, ”Mungkin aku datang malam ini”. Tentunya kamu tidak yakin aku akan datang atau tidak, kan?

Jangan Gunakan Kata Negative

Selayaknya kita tidak menggunakan kata negatif seperti “jangan” atau “tidak”. Pikiran bawah sadar tidak mengenal kata negatif sehingga tiap kali kali kita menggunakan kata ”jangan” atau ”tidak”, kita berharap keadaan itulah yang kita inginkan. Misalnya begini ”Aku tidak mau miskin”. Pikiran bawah sadar akan menterjemahkannya menjadi ”Aku mau miskin” karena semakin kamu berpikir ”saya tidak mau miskin” yang terbayang adalah saat ini kamu miskin.

Masih bingung? Contoh lain misalnya, ”Jangan bayangkan monyet naik sepeda”. Apa yang ada di pikiranmu sekarang? Kemungkinan besar kamu membayangkan seekor monyet yang sedang naik sepeda, kan?

Transformational Vocabulary

Ada istilah namanya ”Transformational Vocabulary” yang intinya mengganti kata-kata tertentu dengan kata-kata yang lebih bermakna untuk membantu kita mencapai tujuan yang diinginkan. Kamu bisa mengubah persepsimu tentang sesuatu dengan menggunakan kata-kata yang berbeda.

Contohnya:

Aku mencoba memperbaiki mobil kamu,
ganti dengan:
Aku akan perbaiki mobil kamu

Aku mungkin datang malam ini,
ganti dengan:
Aku datang malam ini

Aku tidak mau miskin,
ganti dengan:
Aku mau kaya

Aku mengerjakan ini karena disuruh atasan saya
ganti dengan:
Aku mengerjakan ini karena saya memilihnya

Latih diri kamu untuk mengawasi kata-katamu sendiri. Kamu akan merasakan kata-kata itu memiliki kekuatan dan energi positif. Transformational vocabulary bisa mengubah cara pandang atau persepsimu terhadap situasi apapun dan meningkatkan kesadaranmu.

-ooOoo-

Bagi kamu yang membaca mungkin ada yang kurang bersependapat, tidak apa-apa. Definisi mengenai kehidupan itu sangatlah subyektif. Jadi kamu dapat menjabarkan definisi kehidupan menurut pengalaman pribadimu sehari-hari. Begitu juga tentang transformasi diri, karna informasi yang aku ketahui tak lain hanya dari sebuah buku, artikel dan kehidupan yang yang aku jalani sehari-hari.

Lebih baik kamu mempelajarinya sendiri, membeli atau setidaknya membacanya. Jika kalian mengalami kesulitan dalam mengartikannya, di buku itu terdapat Dvd yang lebih memudahkan kamu untuk memahami arti disetiap tulisan. Oya, buku “The Secret”, sangat umum untuk semua agama. Tidak mengutamakan suatu agama tertentu. Tapi bagi kamu yang fanatic dalam agama tertentu jangan menafsirkan lain ya… Karna pengetahuan itu luas. Semoga kamu dapat mempelajari setiap makna dalam kehidupan yang kamu jalani setiap harinya.

Arigato Gozaimasu
-ooOoo-

Thursday, February 17, 2011

About Resiliensi Diriku


Aku akan berbagi mengenai “my true story” dan resiliensi. Dimana, ketika aku mengalami suatu kejadian yang membuat diriku semakin kuat. Entah kekuatan apa yang ada pada diriku? Yang jelas aku mencoba untuk resiliens terhadap keadaan yang ada. Dan hal inilah yang membuat aku terfikir untuk memberi judul skripsiku dan menulis novel tentang resiliensi. Aku mulai menggemari membaca dan menulis ketika segala permasalahan menghampiriku, dalam hitungan menit. Itulah bentuk dari pengalihan semua masalah yang aku hadapi, dengan membaca, menulis dan tidur (istirahat) agar pikiranku menjadi tenang.

Sekilas aku akan membahas tentang resiliensi:
Coba bayangkan seandainya…
Bola merupakan diri kita
Lantai merupakan orang-orang yang signifikan bagi diri kita, (seperti keluarga, pacar, teman-teman, ataupun berupa institusi tertentu)
Kekuatan hempasan merupakan permasalah hidup yang kita hadapi

Apabila bola yang tidak kempes, kemudian dihempaskan pada lantai yang lembek dengan kekuatan hempasan yang lemah,
Maka bola tidak akan memantul dengan baik, pantulannya hanya sedikit sekali.

Apabila bola yang kempes, kemudian dihempaskan pada lantai yang lembek, bahkan dengan kekuatan hempasan yang lemah sekalipun,
Maka bola tidak akan mampu untuk memantul. Bola akan menyerah terhadap hempasan tersebut.

Apabila bola yang kempes dihempaskan pada lantai yang keras dengan kekuatan yang lemah,
Maka bola juga tidak akan mampu untuk memantul dengan baik.

Apabila bola yang tidak kempes dihempaskan pada lantai yang keras, walaupun dengan kekuatan yang lemah,
Maka bola akan mampu memantulkan diri.
Bahkan apabila bola dihempaskan dengan kekuatan yang semakin kuat, maka bola akan bisa memantulkan dirinya lebih tinggi lagi!

Ilustrasi di atas merupakan ilustrasi dari resiliensi. Resiliensi itu merupakan daya pegas (bouncing ability) yang dimiliki seseorang ketika dihadapkan pada suatu permasalahan, baik itu permasalahan yang besar maupun yang kecil.

Dengan memakai ilustrasi di atas, maka bola harus memiliki isi udara dengan kualitas yang bagus dan tidak bocor supaya tidak menjadi bola yang kempes, sehingga mampu untuk memantul. Bola dapat diisi dengan rasa optimisme, kemampuan untuk fokus, tenang dalam menganalisa permasalahan yang dihadapi, dan hal-hal lainnya yang positif. Lantai harus merupakan dukungan sosial dari orang-orang yang signifikan bagi kita, yang memiliki kekuatan agar menjadi lantai yang keras yang mampu membantu bola untuk memantul.

Menurut Grotberg (1999) resiliensi merupakan kapasitas yang dimiliki oleh manusia untuk menghadapi, mengatasi, dan mendapatkan penguatan, bahkan mencapai transformasi diri setelah menghadapi berbagai macam pengalaman-pengalaman yang sulit dalam kehidupan. Fergus dan Zimmerman (2005) menyatakan bahwa positive adjustment merujuk pada suatu outcome dari resiliensi.

Orang-orang yang memiliki resiliensi mampu bangkit dari trauma yang mereka alami. Mereka mencari pengalaman baru yang menantang karena mereka belajar bahwa hanya melalui perjuanganlah mereka dapat memperluas wawasan. Mereka memahami bahwa kegagalan bukanlah titik akhir. Mereka tidak malu saat mereka tidak berhasil, tetapi justru dapat mengambil makna dari kegagalan dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk mencoba lebih baik dari yang pernah mereka lakukan (Reivich & Shatte, 2002).

Salah satu penelitian mengenai resiliensi yang dilakukan oleh Nettles, Mucherah, dan Jones (2000) menemukan bahwa resiliensi tercapai apabila seseorang memiliki akses terhadap social resources seperti orang tua yang perhatian dan hubungan yang saling mendukung dengan orang sekitarnya. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Grotberg (1999) bahwa kita memerlukan orang lain agar bisa mencapai resiliensi.

Harus diingat bahwa ketika kita memiliki resiliensi yang baik, bukan berarti kita terbebas dari semua permasalahan hidup, tetapi resiliensi merupakan senjata kita untuk mengatasi semua permasalahan tersebut. Grothberg (1999) mengemukakan resiliensi tidak melindungi kita dari rasa sakit dan penderitaan, tetapi dapat memicu respon-respon resiliensi yang akan membantu kita untuk mengatasi kesulitan yang kita rasakan. Selanjutnya Reivich dan Shatté (2002) menyatakan bahwa resiliensi mentransformasi kesulitan menjadi sebuah tantangan, helplessness menjadi suatu kekuatan. Resiliensi mampu mengubah seorang korban menjadi survivor, dan memungkinkan survivor untuk maju dan mengembangkan dirinya.

Menurut Reivich dan Shatté (2002) resiliensi bersifat kontinum, dimanapun seseorang “jatuh” pada garis kontinum tersebut, maka kita mampu menaikkan resiliensi kita dengan meningkatkan kemampuan kita dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup kita. Dengan demikian, resiliensi bisa dipelajari dan dicapai pada setiap tahap kehidupan kita.

Tuesday, February 15, 2011

Tentang Cinta: Cintailah Tanpa Mengharapkan Balasan


Kisah #3
“Pengorbanan”
Reo dan July adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, meski mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Keluarga July berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Reo hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan.

Suatu hari Reo berkata kepada July, “July, aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Aku ingin kita dapat mencintai sampai tua, dan sampai Tuhan memanggil kita berdua!”

Saat mendengar Reo berkata demikian, menangislah July. Ia berkata kepada Reo, “Reo, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku telah memutuskan untuk tidak akan menikah denganmu karena aku membutuhkan uang dan kekayaan seperti kata orangtuaku.” Mendengar itu Reo pun bak disambar geledek. Ia sangat marah kepada July. Ia mengatai July matre, tidak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Akhirnya, Reo meninggalkan July menangis seorang diri.

Kata-kata July membuat Reo betekad untuk menjadi orang yang sukses dan kaya raya. Dan jerih payah Reo mulai menunjukkan hasil. Kariernya melejit, dan dalam waktu kurang dari 2 tahun, ia berhasil menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide, bahkan ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Reo menjadi symbol kesuksesan bagi orang-orang yang mengenalnya.

Suatu hari, saat Reo sedang mengendarai mobil barunya, tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawatt. Reo sangat terkejut karena ia mengenali kedua suami istri itu sebagai orangtua July. Karena penasaran, Reo membuntuti mereka hingga ke sebuah makam.

Reo sangat terkejut ketika ia mendapati foto July di atas nisan. Reo pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam July untuk menemui orangtua July. “Reo, kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan July. July menitipkan surat ini untukmu. Bacalah, “kata ayah July sambil menyerahkan sepucuk surat yang mulai kumal.

Reo membaca surat itu. “Reo, maaf aku terpaksa berbohong. Aku terkena kanker otak ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan yang penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku lakukan itu semua, karena aku mencintaimu Reo.” Airmata tanpa terasa telah membasahi pipi Reo, hatinya begitu sesak sehingga ia tak mampu mengatakan apapun.

Pesan Cerita:
Cinta yang sesungguhnya bukan pada saat kita sedang dimabuk asmara, ketika kita menghabiskan saat-saat romantic dengan pujaan hati. Tapi cinta sejati adalah ketika orang yang kita cintai menyakiti kita, ketika gelora asmara sudah tidak terasa lagi, tapi kita masih berdiri di sampingnya dan peduli dengannya, dan mencintainya. Karena cinta sejati adalah apa yang tersisa ketika api cinta telah padam. J
Power of Dream Slideshow: Aozora’s trip to Semarang, Jawa, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Semarang slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.