Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, April 6, 2012

Kulit dan Isi


Tak kureguk cawan empedu kecuali akan berbuih madu. Tak kudaki jalan setapak rimba kecuali mencapai padang sabana. Aku tak akan kehilangan seorang kekasih dalam kabut malam kecuali aku menjumpainya dalam terang fajar.
Betapa sering kututupi kepedihan dan penderitaan sambil berandai bahwa disana ada ganjaran dan kebaikan. Namun setelah jubah itu kutinggalkan maka kudapati kepedihan itu berubah menjadi kemegahan dan penderitaan itu  berubah menjadi kesejukan dan ketentraman.
Betapa sering aku dan kawanku berjalan di alam nyata lalu membatin, “Alangkah bodoh dia, betapa dungu dia”. Namun sesungguhnya aku belum mencapai alam rahasia hingga kulihat diriku seorang tiran yang lalim dan kulihat dia seorang arif yang bijak.
Betapa sering aku mandam oleh anggur materi dan mendugaku serta teman minumku bagai domba dan serigala. Setelah aku sadar dari mabukku maka kulihat diriku seorang manusia dan ia pun seorang manusia biasa.
Aku dan kalian, terperangkap oleh sesuatu yang tampak pada permukaan lahiriah kita, tetapi terbutakan dari segala sesuatu yang tersamar dari hakikat kita. Bila salah seorang diantara kita jatuh maka kita katakan, “Dia gugur”. Jika lamban kita bilang, “Dialah si lemah yang merugi”. Jika bimbang kita sebut, “Dia bisu”. Bila mendesah karena mengeluh kita bilang, “Itu suara sekarat dan dia di ambang ajal”.
Aku dan kalian terlanjur simpati pada kulit. Karena itulah kita tidak mampu melihat sesuatu yang dirahasiakan-Nya pada “Aku” dan pada yang disembunykannya pada “Kalian”.
Apa yang seharusnya kita perbuat sedangkan kita lupa pada segala kebenaran yang ada pada diri kita karena pengaruh tipu daya?
Kukatakan padamu, barangkali ucapanku adalah topeng yang menutupi wajah sejatiku. Kukatakan padamu dan pada diriku bahwa apa yang kita lihat dengan mata kita tidaklah lebih dari kabut yang menutupi sesuatu yang seharusnya kita saksikan dengan mata hati kita. Dan apa yang kita dengar dengan telinga kita tak lain adalah dengung yang mengacaukan apa yang semestinya kita dengar dengan hati kita.
Tidak… jangan engkau menunjuk hakikat seseorang dengan sesuatu yang tampak pada dirinya. Jangan kau ambil ucapan seseorang atau tingkahnya sebagai alamat bagi suara hatinya. Karena orang yang kau anggap bodoh karena lidahnya cedal atau dialeknya lemah siapa tahu perasaannya adalah jalan terang bagi kecerdasan dan hatinya adalah tempat turunnya wahyu. Dan barangkali orang yang kau hina karena buruk muka dan nestapa hidupnya, ia adalah tiupan dari Surga di bumi, sebagai karunia Ilahi pada manusia.
Tidak… hidup bukanlah kulit luarnya, tapi yang tersembunyi. Dan bukanlah yang tampak pada kulitnya, tapi isinya. Manusia bukanlah wajah mereka, tapi hati mereka.
Tidak… agama itu bukan yang ditampakkan di tempat ibadah dan ditampilkan oleh ritus dan dogma. Agama ialah yang tersimpan di jiwa mengejawantah melalui hati.
Bukan… seni bukanlah apa yang kau dengar dengan telingamu, tinggi rendahnya suara suatu nyanyian atau getaran intonasi kata-kata di dalam pusisi atau juga garis dan warna dalam lukisan yang kau lihat. Tetapi, seni adalah jarak bisu yang gemetar yang datang dari tekanan suara dalam nyanyian, sesuatu yang diam, tenang, liar, dalam jiwa sang penyair, yang merasukimu melalui puisi serta yang disampaikan oleh sebuah lukisan yang engkau lihat, dan engkau menatapnya pada apa yang ia lebih jauh dan lebih indah darinya.
Tidak… bukanlah hari-hari itu dengan kenyataannya. Dan aku, aku sang pejalan dalam pawai siang dan malam, aku bukanlah apa yang sedang kuutarakan padamu, melainkan sekadar suara hati yang tenang yang dibawa perkataanku kepadamu.
Karena itulah, jangan kau sangka diriku bodoh sebelum kau selami diriku yang sejati. Jangan bayangkan aku jenius sebelum kau telanjangi diriku yang asli. Jangan kau bilang aku kikir berkepal tangan sebelum kau lihat hatiku. Atau juga mulia dan dermawan sebelum kau tahu sesuatu yang mengisyaratkan pada kemulian dan kedermawananku. Jangan kau kira aku seorang pencinta hingga jelas bagimu cahaya dan api dalam hatiku. Jangan kau anggap diriku kesepian hingga engkau menyentuh lukaku yang berdarah.

Saturday, March 3, 2012

Ratio & Hati


“Aku bayangkan bahwa saat ini kau merasa seperti Alice yang jatuh ke dalam lubang kelinci?” ujar Ratio.

“Kira-kira begitu,” jawab Hati

“Aku bisa melihat di matamu. Wajahmu seperti orang yang menerima apa yang ia lihat karena ia berharap untuk terjaga. Ironisnya, ini tak jauh dari realitas. Kau percaya takdir Hati?” tanya Ratio.

“Tidak...,” tandas Hati

“Kenapa tidak???”  Ratio balik bertanya

“Sebab aku tak suka jika aku tak bisa kendalikan hidupku,” tegas Hati

“Aku paham sekali maksudmu. Aku akan jelaskan kenapa kau ada disini. Kau ada di sini karena kau tahu sesuatu. Kau tak bisa menjelaskan apa yang kau ketahui itu. Tapi kau merasakannya. Kau merasakannya selama hidupmu ini. Ada yang tak beres dengan hidupmu ini. Kau tak tahu apa yang salah tapi itu ada, seperti sesuatu dalam benakmu yang membuatmu gila. Perasaan itulah yang membawamu kepadaku, kau paham ucapanku ini?” pancing Ratio

“Matrix?” tebak Hati

“Kau mau tahu apa itu? Matrix ada di mana-mana. Ia ada di sekeliling kita. Bahkan saat ini di ruangan ini. Kau bisa melihatnya jika kau melihat jendelamu atau jika kau menyalakan televisimu. Kau bisa merasakannya saat kau pergi ke suatu tempat, saat kau berjalan. Itu adalah dunia yang disajikan di depan matamu untuk menutupi realitas,” jelas Ratio

“Realitas apa???” tanya Hati

Ratio segera menjawab, “Bahwa kau adalah seorang budak. Seperti yang lain, kau lahir dalam keadaan terkekang, lahir dalam penjara yang tak bisa kau cium, rasakan atau sentuh. Sebuah penjara bagi pikiranmu. Sayangnya, tak ada yang bisa ceritakan apa itu Matrix. Kau harus melihatnya sendiri. Inilah kesempatan terakhirmu. Setelah ini kau tak bisa kembali lagi. Kau telan pil biru, ceritanya berakhir, kau bangun di ranjangmu dan percaya apa pun yang mau kau percayai. Kau telan pil merah, kau tinggal di Negeri Ajaib dan aku tunjukkan sejauh mana lubang kelincinya. Ingat, aku hanya menawarkan realitas. Tak lebih dari itu!”

Tuesday, January 10, 2012

Membuat Keputusan


Sebuah masalah dengan sebuah solusi memerlukan sebuah keputusan, namun bagaimanakah cara mengambil keputusan penting dalam hidup kita?

Biasanya kita mencoba mencari orang lain dan memintanya untuk membuat keputusan sulit bagi kita. Dengan begitu,  jika kemudian terjadi sesuatu yang salah, kita punya seseorang sebagai kambing hitamnya. Beberapa teman Saya pernah mencoba mengakali Saya supaya membuat keputusan bagi mereka, tetapi Saya menolak. Yang Saya lakukan adalah menunjukkan kepada mereka bagaimana mereka bisa membuat keputusan yang bijaksana oleh mereka sendiri.

Saat kita tiba di persimpangan jalan dan tak yakin arah mana yang harus diambil, kita sebaiknya menepi, rehat sejenak, dan menanti sebuah bus. Segera, biasanya pada saat kita tak berharap, sebuah bus tiba. Di bagian depan bus umum ada tulisan yang menandakan tujuan dari bus itu. Jika tujuan bus Anda sama, naiklah ke bus itu. Jika tidak, tunggulah, akan selalu ada bus lain yang datang.

Dengan kata lain, saat kita harus mengambil suatu keputusan dan tak yakin apa yang akan terjadi, kita sebaiknya menepi, rehat sejenak, dan menunggu. Segera, biasanya saat kita tak berharap, sebuah solusi akan menghampiri. Setiap solusi punya tujuannya sendiri. Jika tujuannya cocok dengan tujuan kita, ambillah solusi itu. Jika tidak, kita tunggu lagi, akan selalu ada solusi lain yang akan datang.

Begitulah cara Saya membuat keputusan. Saya mengumpulkan semua informasi dan menunggu kedatangan solusi. Sesuatu yang bagus akan selalu datang, asalkan Saya tetap sabar. Biasanya dia datang dengan tak disangka-sangka, ketika saya tidak memikirkannya. J
Power of Dream Slideshow: Aozora’s trip to Semarang, Jawa, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Semarang slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.