Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, December 17, 2011

Elang Dalam Burung Pipit


Aku menunduk dan melihat bayangan seekor burung pipit yang sedih dan lemah. Selalu berusaha menerjang angin. Dan walaupun pasir-pasir yang bertebaran menusuki dagingnya. Dia berjuang dengan sekuat tenaga, mengepakkan sayapnya. Menahan punggungnya yang penuh beban. Aku melihat ini, bayanganku, melengkung dan berputar di bumi. Dan duka cita membakar goresan dalam pada harapan gelapku di dalam.

Aku pernah melihat gelas, dan bukan karena separuhnya yang kosong, yang membawa keputusasaan. Tapi, bagian yang tumpah adalah madu. Madu yang aku rindukan dan aku perlukan, yang aku tangisi. Aku berhenti dan mawar yang kucium, tapi itu adalah mawar yang palsu.

Aku memiliki jiwa dan spirit, tapi mereka sudah melupakan dan tidak saling mengenal. Ketika aku memeras titik merah darah keberanianku ke dalam kepakan sayap-sayapku. Aku benar-benar tersesat di jalan yang telah kupetakan. Aku tersesat tepat di tempat yang telah aku pilih.

Setiap petunjuk yang aku gambar ada di sini. Dan aku semakin tersesat daripada kau hidup. Di dalam pengetahuan yang gelap ini, akhirnya aku menemukan harapanku. Di dalam keberanian murni yang tak aku punyai sama sekali. Aku tidak akan pernah mencapai tempat tujuanku.

Apapun halangannya, darah, air mata, robekan jiwaku. Ketika sayap-sayapku tersayat oleh kesedihan yang telah aku buat sendiri. Dan di dalam harapan yang tidak memiliki harapan ini. Aku menemukan angin. Tidak hanya nagin, tetapi angin di dalam angin.

Aku berhenti  mengepakkan sayap, membebaskannya, dan mulai mengapung. Perubahan di dalam udara sejuk kehidupanku, kehidupan yang sejati tidak palsu. Segala sesuatu baru dan aku terbang melayang. Kemudian membumbung tinggi melangit.

Sayap-sayapku memeluk langit dan jiwaku kembali mengenal spiritku. Madu itu bukan di dalam gelas lagi. Sebab madu itu telah memenuhi hatiku. Dan mawar harum itu adalah setiap mawar ditubuhku.

Aku tidak lagi berjuang dan menerjang sebab sekarang aku hidup. Pasir dan angin bersama-sama dengan perjalananku. Saudara-saudaraku disampingku, memeluk erat. Aku memandang seluruh dunia bernafas keindahan yang murni di dalam dan di luar. Beban beratku menguap bersama keluh kesahku. Dan memenuhi awan-awan yang mengacak-acak rambutku.

Aku menunduk. Bayang-bayang burung pipit yang sedih tidak ada lagi. Aku hanya melihat sayap-sayap besar burung Elang yang mengembang. Dalam angin dari semua angin yang selalu dimilikinya.

Friday, December 16, 2011

Fokus


Proyek Pribadi Hari Ini:
BERFOKUS HANYA PADA YANG PENTING

Di pagi yang ranum bagi upaya baik ini, jadikanlah ini kalimatmu yang kau sampaikan kepada Tuhan …

Tuhanku Yang Maha Melapangkan,

Aku tahu bahwa “Apa pun yang menjadi fokusku, akan tumbuh.”

Maka jika aku berfokus pada pelajaran yang baik, aku akan menjadi terpelajar.

Jika aku berfokus pada yang menjadikanku mampu, aku akan naik kelas dalam kehidupan ini, sesuai dengan kelas kemampuanku.

Dan jika aku berfokus pada yang membaikkan hati dan kehidupan sesamaku, aku akan menjadi pemimpin yang ketokohannya dirindukan sesama.

Tuhan … itu sebabnya, aku memohon restuMu bagi upayaku hari ini, untuk menjadikan diriku berfokus hanya pada yang penting bagiku, yang menjadikanku bernilai bagi keluarga dan sesamaku.

Semoga dengannya, Tuhanku Yang Maha Pemurah ...

Mulai hari ini Engkau menjadikan aku pribadi yang damai dalam keikhlasan, kuat di atas kesulitan, bersyukur dalam rezeki yang baik, dan tetap rendah hati dalam keberhasilan.

Aamiin

Monday, November 28, 2011

Ketidaksempurnaan Yang Sempurna


Di atas jalan yang paling sering dilalui orang. Aku bertemu kebohongan batinku sendiri. Di antara keindahan dalam hidupku. Aku mendapati cahaya kilat perjuangan batin. Setiap bukit atau mega yang sempurna adalah hadiah dalam kabut gelap. Syukuri damai terlepas dari genggamanku karena egoku terlalu mau menang sendiri. Setiap bayang pepohonan yang disucikan. Aku berpikir jauh lebih menyenangkanku. Dalam langit yang biru dan disucikan. Aku mendapatkan yang lebih indah dalam mata pikiran. Hujan kristal menetes hendak jatuh, bergemuruh tetapi tidak sekeras panggilanku. Kemudian aku tahu mengapa damai lepas dari genggaman.

Aku kehilangan kenikmatan terlalu banyak. Dalam diri seseorang, tumbuhan, atau sungai kecil kesenangan lepas dari pandanganku. Aku melihat dari dekat sepotong hidupku. Aku berdarah dari potongan pisau yang tidak sempurna. Tidak ada satupun dapat berdiri.

Aku menyuruh peneliti secara kritis. Dan pandangan di pinggir pantai yang jauh, tampak lebih berharga untuk diungkapkan. Kecantikan sebenarnya ada di tangan, untuk melihat lebih dekat pada ketidaksempurnaan. Dan melihat sebab-sebab dari Tuhan dan hanya kemudian mendapatkan kebahagiaan. Dan, setiap dianugerahkan pada setiap kecupan suci. Setiap kepingan hidup pada kepingan puzzle kehormatan, telah dinaungi dan dibentuk oleh tangan Tuhan.

Untuk melihat samudra yang luas dari setitik embun dan memegang surga dalam setiap tarikan napas. Untuk merasakan seluruh ciptaan dalam seekor kutu kecil dan wajah Tuhan berada pada setiap yang kutatap.

Ketidaksempurnaan yang sempurna ini begitu nyata.

Saturday, November 19, 2011

I'll bet you never knew



Would you like to hear a secret,
Something I'll bet you never knew,
A secret deep inside me,
I've been hiding it from you.

Do you see this smile,
So huge upon my face,
My eyes are big and sparkling,
Everything seems in its place.

I'll bet you didn't know,
As I close my bedroom door,
There's something I've been hiding,
I let out as I fall to the floor.

You can't hear my silent sobs,
Or see the cuts I make,
You don't know the things I do,
When I don't have to be fake.

The secret I've been hiding,
The one that I hide best,
I never wanted you to worry,

Mom, I'm scared...

Sunday, November 13, 2011

Lying Isn't The Answer


The tears fall silently
For I do not want you to see
See how much you are hurting me inside
Sometimes you make me feel alive
But most the time you make me feel like I'm dying
As i write this you've got me crying
But hey what do you care
You just want me so you have someone there

Yet you still keep secrets from me
And you think I'm too blind to see
When I tell you what's on my mind
You shut me out every single time
You curse and raise your voice
And act like a complete loser around the boys

Talking bout things I don't need to know or hear
So i try to block it out from my ears
But then your past creeps into my mind
How can I trust you when you did that all the time
It feels like you've got someone else
But I don't know your phone's always on your belt

Why propose to me if you're going to keep secrets
Seriously you make me feel like I'm not worth it
Don't tell me you love me if it's all a lie
Cause I will leave without saying goodbye J J J

Sunday, November 6, 2011

Harmoni Musik Kehidupan


Aku sedang memerankan peran utama dalam kehidupanku.

Saat ini aku sedang berada dalam kelas tari, dimana aku sedang belajar menguasai gerakan demi gerakan. Aku, kamu, mereka adalah murid-murid kehidupan. Memperlajari cara-cara baru untuk bergerak dalam harmoni dengan irama musik kehidupan yang terus berubah. Dengan caraku sendiri, mungkin aku juga merupakan guru, saat aku berbagi apa pun yang aku pelajari dari suatu kehidupan (hitam dan putih) kepada orang lain. Setiap hari, aku mempelajari arti dari menghargai diriku sendiri, menghargai orang lain dan diri terbaikku.

Tergantung pada hari dan tariannya, terkadang aku masih tersandung dan terpeleset dari harmoni. Aku pun juga sempat terhenti, mengambil nafas dalam-dalam beberapa kali, dan kemudian melangkah lagi bersama irama musik. Namun, aku belajar dan itulah yang terpenting. Instruktur (ibuku), yang sangat tegas dan sabar itu, sesekali membujuk dan kadang menyeretku ke lantai dansa. Aku yakin bahwa tarianku akan semakin baik setiap kali aku berlatih. Akan tetapi, aku juga tahu bahwa “aku akan selalu belajar”. Aku akan selalu menguasai langkah-langkah baru untuk menghargai dan mensyukuri anugerah-anugerah yang aku miliki.

Sebuah gambaran klasik yang kadang-kadang digunakan sebagai analogi untuk proses hidup ini, adalah gambaran api (panas) yang menyala di bawah sebuah mangkuk (tubuhku) yang menampung air (pendingin yin dalam diriku). Api memanaskan air dan menciptakan uap, yang mewakili apa yang disebut oleh orang China sebagai ch’i. Ch’i adalah energi pemelihara yang aku butuhkan untuk hidup. Ketika segala hal dalam keadaan tidak seimbang, api menciptakan efek penghangat yang alami. Namun, jika api terlalu panas, air akan mulai mendidih. Jika ini berlangsung lama, panas akan menghabiskan air dan menghamburkan energi yang aku butuhkan. Begitu air menguap, aku benar-benar akan jatuh karena tidak mampu menghasilkan energi lagi.

“Satu bulan, aku merasa bahwa aku punya banyak energi dan bulan berikutnya aku merasa seolah jatuh dari tebing, terbaring di tempat tidur dan tidak bisa bergerak”.

Apakah aku bergerak dengan tangki penuh atau bergerak dengan ilusi bahwa tangkiku penuh? Apakah aku akan membiarkan tangkiku menjadi kosong, sebelum mengisinya lagi, memaksanya untuk berjalan dan karenanya beresiko mogok? Apakah aku membiarkan cahayaku padam karena aku tidak punya minyak yang cukup dalam lampu batinku? Singkatnya, dimanakah aku meletakkan diriku sendiri dalam daftar prioritas hidup?
Bagaimana jika aku membalikkan urutan itu? Bagaimana jika aku terlebih dahulu memastikan lampuku memiliki minyak yang cukup di dalamnya sebelum menyinari jalan bagi yang lain? Bukankah itu akan membantu menjaga agar lampuku tetap menyala dengan terang sehingga aku bisa memberikan lebih banyak cahaya kepada orang lain?

Aku menghargai diri sendiri ketika aku menerima dukungan. Namun, seperti burung-burung dalam migrasi mereka yang panjang dan berat, aku juga harus mengandalkan kekuatan batinku sendiri untuk melewatinya. Melayari paradoks “menerima dukungan dan berjuang sendiri”, memerlukan rasa keseimbangan yang tajam. Bisa jadi ada garis samar antara menerima bantuan dan membiarkan seorang penolong mengontrol hidupku. Aku akan berusaha tetap berada dalam keseimbangan jika aku memastikan diriku memahami dengan jelas, Apa yang aku harapkan dari mereka yang menawarkan bantuan? dan Apa yang mereka harapkan sebagai balasannya? Apapun bentuk bantuan yang diberikan, ingatlah pada akhirnya, akulah yang berhak mengambil keputusan yang langsung berpengaruh pada diriku sendiri.

Aku harus menjadi binatang pemandu dalam hidupku.”

Didalam hubungan yang akrab sekalipun misalnya berpacaran, dimana dukungan timbal-balik seharusnya menyertaiku. Sangatlah penting untuk mencapai keseimbangan antara bersandar pada orang lain dan tetap berdiri tegap di atas kaki sendiri. Di dalam salah satu karya sastra favoritku, dari Kahlil Gibran, seorang penulis Libanon, dia berkata: “Biarkan ada ruang antara kebersamaanmu itu... Bernyanyi dan menarilah bersama, dalam segala suka cita, tapi biarkanlah masing-masing menghayati ketunggalannya, bahkan tali kecapi masing-masing punya hidup sendiri walau lagu yang sama sedang menggetarkannya... Tegaklah berjajar, namun jangan terlampau dekat, bukanlah tiang-tiang candi tidak dibangun rapat, dan pohon ek serta pohon cypress tiada tumbuh dalam bayangan masing-masing”.

Seperti kisahku juga memperlihatkan mengapa kemandirian itu mutlak. Terkadang aku mengeluh kepada ibuku, bahwa aku merasa sangat semangat dalam segala hal, tetapi ketika aku mendapati ada masalah dengan hubunganku, yang tidak lain adalah sumber dukungan dan meneruskan aktivitasku sehari-hari, suasana hati ini senyap. “Apa yang harus aku lakukan?” Aku bertanya. Ibuku yang bijaksana menjawab dengan sebuah analogi yang arif: “Sesekali kamu harus seperti orang yang berjalan melewati hutan dalam gelap bersama seorang teman. Akan datang waktunya ketika dua orang itu harus berpisah dan masing-masing melanjutkan perjalanannya sendirian. Tak seorang pun akan takut terhadap kegelapan jika dia membawa lenteranya sendiri.” Jika situasinya demikian, aku harus mampu mengandalkan diri sendiri untuk menerangi jalanku.

Nasihat yang masuk akal itu, berlaku untuk semua hubunganku dengan orang lain. Aku akan diminta untuk memberi dan menerima dukungan dalam berbagai cara saat aku menjalani hidup. Keajaiban terjadi ketika aku menyadari potensi terbaikku.

Tetapi kehidupan selalu mencoba membawaku ke dalam keseimbangan. Jika aku terlalu mandiri, aku akan menghadapi situasi dimana aku harus bekerja sama agar bisa bertahan hidup. Jika terlalu tergantung atau pasif, hidup cepat atau lambat akan menjatuhkanku dari hubungan, pekerjaan, atau harta benda, yang mencegahku untuk bergerak maju.

Dalam pasang naik dan surut yang terjadi secara alami dalam minggu-mingguku. Aku membutuhkan pertolongan. Itulah saat dimana aku menarik batasan, dan batasan itu adalah tindakan yang pantas. Ketika energiku mengalami pasang surut, itulah saatnya aku mengubah haluan dari orinetasi memberi ke orientasi menerima. Melakukan hal-hal yang paling membuatku segar, baik itu berjalan-jalan di alam terbuka, mendengarkan alunan musik favorit, memainkan sebuah permainan bersama keponakan, atau cukup dengan memejamkan mata, tidak melakukan apapun, dan menarik nafas dalam-dalam.

Terkadang aku tidak tahu diriku yang sesungguhnya. Hal inilah yang membuatku semakin jauh dari apa yang aku harapkan.  Sehingga aku menerima apa yang tidak aku inginkan. Kekasihku pernah berkata, “Terkadang kamu terlihat seperti sangat mengerti diriku tetapi disuatu waktu kamu nampak asing bagiku, bahkan aku seakan tidak mengenal siapa dirimu”. Kata-kata itu seakan menari-nari indah dan terekam dalam memori otakku.

Aku dan kekasihku hampir memiliki kesamaan sifat. Kesamaan inilah alasan utama yang membuat pertengkaran itu terjadi, sehingga lama-lama membuat tidak nyaman dan seakan mengarah dalam hubungan yang tidak sehat. Seperti, kesalah-pahaman prinsip, ego, keangkuhan, finansial, keluarga dll. Dimana aku berperan sebagai seorang wanita yang perasa dan pemikir, sedangkan dia berperan sebagai seorang pria yang penuh dengan logika. Apakah dia tahu, bahwa terkadang aku terbujur membisu, di gelapnya malam, di sudut tempat tidurku, aku menangis. Tanpa dia ketahui hal ini sangat menyiksaku.

“Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, tetapi Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan.”

Kata-kata diatas terus aku gali. Apa makna yang sebenarnya dan apa yang aku butuhkan dari dia, yang terkadang aku merasa tidak menginginkannya. Dan disini akhirnya aku mengerti, bahwa sesungguhnya aku belajar untuk memahami diriku sendiri melalui dirinya. Sedikitnya, dia cukup tahu bagaimana diriku yang sesungguhnya. Dan ketika dia mengemukakan pendapatnya tentang diriku, entah itu baik atau buruk. Aku hanya dapat terdiam. Untungnya kita berdua sama-sama saling mengerti meskipun sedang berselisih, duduk berdekatan dan membicarakan apa yang terjadi dengan kepala dingin dan dalam keadaan tenang.

Jika aku terus-menerus menempatkan perasaanku ke sudut yang gelap, dimana perasaan tersebut tidak bisa dilihat atau didengar, aku kehilangan sentuhan dengan salah satu sumber daya batinku yang paling berharga. Tentu saja aku tidak menyarankan diriku sendiri untuk menuruti setiap keinginan hati atau kemarahan yang membanjiri otakku, seolah-olah aku melayani seorang anak nakal yang menginginkan semuanya dengan caranya sendiri. Perasaanku memang dapat terdistorsi dan membuatku jatuh ketika aku tidak seimbang. Sama pentingnya dengan perasaanku, ada sebuah paradoks yang harus dihadapi dalam emosiku: “Perasaanku dapat membimbingku dan juga bisa menyesatkanku, bila aku membiarkannya lepas kendali”.

Menerima suatu emosi bukan berarti aku menyetujui apa yang menyebabkanku merasa seperti yang aku rasakan, menerima suatu emosi artinya aku menerima sebagaimana adanya. Sering kali aku melawan sesuatu sebagaimana adanya, seolah-olah aku bisa memutar balik waktu dan mengubah apa yang telah terjadi. Seperti memilih pasangan yang merugikan hidupku dan seharusnya aku berharap tidak mengenalnya, kata-kata yang disesali ketika aku memaki-maki kekasihku karna pikiran negatif yang pernah terucap, atau kabar yang tak terduga yang baru saja sampai, konsekuensi hal-hal tersebut sudah ada di depanku. Itulah yang membuatku tidak berdaya dan membawa banyak kepedihan untuk aku hapuskan.

Alih-alih, aku bisa menggunakan energiku untuk menciptakan solusi. Pada saat aku menerima perasaan ini, aku telah mengambil sebuah langkah besar menuju penghargaan diri. Tidak melakukan perlawanan membuatku bebas untuk mengambil tindakan praktis yang diperlukan untuk membantu diri sendiri dan orang lain. Jika aku menghalangi perasaanku, aku telah menolak si pembawa pesan  sekaligus pesannya.

Kesadaran penuh adalah metode yang mendorongku untuk menyadari atau menghakimi. Ketika aku berhati-hati, aku memusatkan perhatian pada apa yang terjadi saat ini. Aku tahu bagaimana dikuasai oleh perasaan sendiri. Perasaanku dapat secara tiba-tiba memicu ledakan kenangan yang menyakitkan dari masa lalu atau ketakutan akan masa depanku. Dan sebelum menyadarinya, aku melakukan perjalanan waktu lagi. Aku tersesat dalam kisah lain. Alur cerita yang panjang, berkelok-kelok di dalam kepalaku berperan sebagai kenyataan, tetapi masa lalu sudah berlalu dan masa depan juga belum terjadi. Tidak satu pun dari hal tersebut yang merupakan kenyataan. Ketika pikiranku mengembara ke mana-mana dan tidak berada disini saat ini, aku hanya mengejar bayangan.

Berapa jam aku hadir dan benar-benar menaruh perhatian terhadap apa yang terjadi di masa kini? Berapa lama dari hariku (atau malamku) yang aku habiskan untuk merenungkan peristiwa masa lalu dengan penuh penyesalan atau kerinduan? Seberapa sering aku tersesat dalam pikiran cemas tentang apa yang mungkin terjadi dalam setengah jam ke depan, minggu berikutnya, atau tahun depan? Ibuku berkata, “Kamu tidak akan pernah menemukan kedamaian dengan meratapi masa lalu atau mereka-reka masa depan. Jawaban-jawaban yang kamu cari selalu ada di masa sekarang, tetapi kamu tidak dapat mengenali anugerah yang digenggam oleh masa sekarang, bila kamu berputar-putar di tempat lain”.

Aku butuh menjaga ketenangan hati. Menjaga ketenangan hati adalah hal yang tidak mudah untuk memahami mengapa banyak dari diriku ini, mengalami kesulitan dalam menerima “sebagaimana adanya” dan perasaanku tentang hal itu. Ketika aku melihat apapun yang tidak nyaman, menyakitkan, atau membuat stress, aku terdorong untuk mengesampingkannya, melarikan diri, atau dengan putus asa memperbaikinya agar hal tersebut menghilang. Otakku langsung mengambil kesimpulan tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi, mendesak reaksi melawan atau menghindar untuk mengambil alih. Reaksi-reaksi ini menciptakan jeram emosi-emosi negatif yang terus berbenturan, menumbuhkan lebih banyak agitasi dan lebih banyak hal untuk ditentang.

Dimana ada agitasi, tidak akan ada kedamaian, tidak ada kejelasan, dan tidak ada solusi nyata. Sekarang bayangkan, aku berusaha menemukan sesuatu yang berharga, yang aku jatuhkan di dasar kolam yang jernih dan tenang. Jika aku mengacak-ack air kolam tersebut dengan kalut untuk menemukannya, aku hanya akan mengacaukan kotoran di dasar kolam. Semakin keruh airnya, semakin sedikit yang dapat aku lihat. Namun, itulah yang sering kali aku lakukan dalam hidupku sendiri. Impulsku adalah bergerak lebih cepat dan berusaha lebih keras, menganggap bahwa cara itu akan membawa aku lebih dekat dengan tujuan, tetapi yang terjadi adalah kebalikannya. Dalam air pada diriku sendiri, aku harus tetap tenang dalam menemukan harta karun. Aku tidak bisa melihat hal yang sebenarnya kecuali jika pikiranku tenang.

“Hadapi pengalaman itu dengan perhatian yang tenang dan tetap terfokus”.

Walaupun mungkin aku tahu bahwa aku memiliki kecemerlangan di dalam diriku dan bahwa memainkan peran utama dalam kehidupanku adalah sesuatu hal yang penting. Aku mungkin masih mendapati diri sendiri berada di suatu tempat diluar panggung utama. Aku menyadari potensiku yang besar, tetapi aku juga ragu, apakah aku bisa memenuhi ekspektasi agung tersebut. Aku mulai menjumlahkan kekuranganku dan mulai kehabisan jari untuk menghitungnya. Aku khawatir tidak mampu menyampaikan anugerah itu.

Jika aku membiarkan ketakutan bahwa aku tidak akan mampu memenuhi potensi terbesarku, mengendalikan diriku, aku mungkin akan mendapati diri sendiri melakukan salah satu atau semua dari hal-hal berikut. Aku mungkin meyakinkan diri sendiri bahwa setiap ide cemerlang yang aku miliki hanyalah mimpi-mimpi tidak rasional. Aku mungkin mengatakan, "Siapa? Aku?" dan langsung berlari ke arah lain. Aku mungkin menurunkan nilai diri sendiri di depan orang lain atau menetapkan ekspekstasi yang rendah bagi diri sendiri. Aku mungkin berpura-pura lemah atau tidak terampil sehingga aku tidak harus menghadapi ketakutan dalam mengambil resiko, melebur dalam kehidupan yang biasa-biasa saja.

Aku mungkin rela bertarung dalam pertempuran orang lain atau mendukung misi mereka sebagai cara untuk menghindari kegundahan bila harus bergumul dengan tugas-tugas sendiri. Namun, strategi-strategi ini tidak pernah berhasil. Tak peduli betapa mulianya sebuah tugas, jika tugas itu bukan milikku, itu semata-mata merupakan pengalihan perhatian.

Apakah aku takut akan ledakan dari kehebatan diri sendiri? Apakah aku merendahkan diri sendiri sehingga aku tidak harus melakukan apa pun untuk memberikan anugerah-anugerahku? Apakah aku berusaha melarikan diri dari potensi hebat dengan meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak berharap untuk memulai proyek karena aku tidak akan mampu melakukannya "dengan sempurna"?

"Tindakan lebih besar daripada tidak adanya tindakan. Oleh sebab itu laksanakan tugasmu dalam hidup. Manusia tidak seharusnya menelantarkan pekerjaannya, walaupun dia tidak bisa mencapainya dengan sempurna. Karena dalam semua pekerjaan mungkin ada ketidaksempurnaan, bahkan dalam semua api pasti ada asap."

Semua ini mengarah pada satu paradoks yang paling luhur dalam hidup. Kita lemah sekaligus hebat. Kita memiliki keterbatasan manusia dan memiliki potensi manusia super. Kita adalah makhluk duniawi dan surgawi dan itu menuntut kita untuk memiliki kerendahan hati sekaligus penghargaan diri dan kebanggaan batiniah yang mendalam pada anugerah-anugerah di dalam diri kita.

Salah satu pilihan yang paling bijaksana dan berani yang aku buat adalah mengakui kekuranganku saat ini dan pada saat yang bersamaan, mengakui kehebatanku. Fakta bahwa aku memiliki kelemahan adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri, dan wajar saja kadang-kadang aku merasa ragu dan tidak berharga. Bahkan mengakui perasaan-perasaan itu adalah sesuatu yang menyehatkan.

"Keraguan akan datang dan pergi, tetapi jangan biarkan keraguan itu melumpuhan diriku sendiri. Alih-alih rangkullah paradoks dan menarilah."



Friday, November 4, 2011

Phoenix Di Dalam Diri


Mengapa menyalahkan diri sendiri atau orang lain menjadi refleks alamiah kita ketika dihadapkan dengan akhir?

“Dia menyakitiku, dia mengkhianatiku, dia menipuku” – semua itu adalah potret dari peristiwa yang mungkin terjadi di suatu ketika dalam hidupku. Dengan memegang erat cerita itu, dengan mengisahkannya berulang-ulang dan menghidupkannya lagi, aku menerima apa yang terjadi dalam satu bagian dari hidup ini sebagai keseluruhan cerita dari hidupku. Tentu saja, penting bagiku untuk mengingat ketidakadilan ini, baik itu dilakukan terhadapku atau individu lain, sehingga aku bisa mencegah tindakan tercela itu terjadi lagi. Meskipun demikian, kisah tentang hal yang terjadi padaku, atau apa yang pernah aku lakukan terhadap orang lain pada satu waktu, tidak harus menjadi keseluruhan cerita hidupku. Aku memiliki kekuatan untuk menciptakan cerita baru. Apa yang terjadi tidak harus menutup hatiku dan mematikan kemampuanku untuk memberi dan menerima kecuali jika aku bersikeras membiarkannya.

“Mengapa ini terjadi? Mengapa aku yang mengalaminya? Mengapa sekarang?” adalah pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan kepada diri sendiri. Aku mungkin mengetahui jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. Barangkali aku akan mendapatkan hikmah bahwa semua insiden dimaksudkan untuk mengajariku atau mengandung berkah yang tersembunyi. Barangkali itu melepaskanku dari sebuah hubungan yang tidak sehat, membuatku lebih kuat atau mempersiapkan aku untuk membantu orang lain yang akan menghadapi masalah yang sama. Barangkali apa yang terasa seperti sebuah penyelamatan diriku dari sebuah kesengsaraan. Atau mungkin perasaan terluka yang aku pertahankan dapat membantu menyadarkan orang yang menyakitiku akan perbuatan bodohnya. Bahkan, aku mungkin tidak akan pernah mengerti penyebab sebuah kejadian itu.

Apa yang dikatakan atau dilakukan oleh orang lain hanya dapat terus membebaniku jika aku selalu mengingat kenangan tentang tindakan-tindakan itu, seperti sekantong batu yang tak berguna, selamanya terikat di punggungku. Betapa lega rasanya jika aku letakan beban itu dan terus melangkah. Aku dapat melangkah lebih cepat dan lebih jauh, tanpa beban bahkan aku bisa terbang.

Pada akhirnya memaafkan adalah cara lain untuk menghargai diri sendiri. Dengan memaafkan, aku menegaskan bahwa aku lebih besar daripada apa yang dipikirkan orang lain tentang diriku. Aku juga menegaskan dan ini mungkin tidak gampang bahwa mereka yang melakukan tindak kejahatan mungkin belum mengetahui bahwa dengan tulus memaafkan, aku membantumu melihat bahwa itulah hal yang sebenarnya (lebih besar).

Maka peluang memaafkan adalah peluang yang menakjubkan bagiku. Apakah aku akan membiarkan perilaku orang lain yang kekanak-kanakan mendefinisikan diriku saat ini dan selamanya? Apakah aku akan membiarkan kejadian itu selamanya mendefinisikan orang yang menyakitiku? Akankah aku memutuskan untuk terus membawa beban itu? Atau akankah aku meletakkan beban itu, menghargai akhir dan membiarkan diriku terbang?

Ketika kita menyakiti orang lain, kita tentu saja harus mengakui dan bertanggung jawab atas tindakan kita, dan itulah sebabnya kita mempunyai sistem peradilan. Namun kaum bijak mengatakan “kita tunduk pada sebuah hukum yang bahkan lebih tinggi, hukum universal yang secara otomatis bekerja di dalam kehidupan setiap orang ‘hukum lingkaran”. Jika kita menyemaikan kemarahan dan kebencian, itulah yang akan kita tuai pada suatu waktu, disuatu tempat. Tradisi dunia sangat jelas dalam hal ini. Ada yang menggambarkannya sebagai “Karma”, “Hukum sebab akibat”, “Apa yang kamu semai, itu yang kamu tuai” atau “Setiap perbuatan pasti ada balasannya”, tetapi semua itu pada prinsipnya sama.

Aku tidak tahu bagaimana hukum lingkaran itu akan berperan dalam kehidupan orang lain. Bagaimana dan kapan keadilan ditegakkan tidak selalu berada dalam kekuasaanku. Hal yang ada dalam kekuasaanku adalah mengembalikan hidupku ke jalur yang seharusnya dan mengakhiri lingkaran kebencian dan balas dendam di dalam hatiku.

Tidak satupun dari kita yang menginginkan kebencian dan kekerasan dalam kehidupan kita dan ketika kita tidak memaafkan, kita adalah orang yang terus menghidupkan hal-hal tersebut. Aku mengeluh tentang kekerasan dan kebencian yang meningkat di planet ini, tetapi aku berperan menambah momentum itu setiap kali aku memilih untuk tidak memaafkan atau untuk membalas kejahatan yang dilakukannya terhadapku dengan keingingan yang berlipat ganda. Kesalahanku adalah menumbuhkan kebencian dan kekerasan tersebut.

Kebencian tak akan pernah berakhir bila dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan rasa kasih. Inilah satu hukum abadi. Bahkan dalam situasi yang paling sulit dan menyayat hati, aku memiliki kekuatan untuk mengatakan,

“Momentum ini berhenti disini”

to be continue...

Sunday, October 30, 2011

Misunderstanding about MEN

FOR EVERY WOMAN WHO HAS LONGED FOR THE RELATIONSHIP OF HER DREAMS, I AM WRITING TO YOU. WHAT BEGAN AS A JOB HAS TURNED INTO A PASSION. THERE IS NOTHING MORE REWARDING FOR ME THAN THE EXPERIENCE OF WATCHING A WOMAN FINALLY OBTAIN HER HEARTS DESIRE

ABOUT RELATIONSHIP


Meningkatkan kualitas relationship…
Aku akan membicarakan sedikit tentang Relationship… Menurutku Relationship adalah tahap KEDUA setelah tahap pertama yaitu SELEKSI… Sebelum kita menentukan untuk membangun sebuah Relationship, pasti kita secara sadar atau tidak sadar akan melalui tahap SELEKSI, baik itu me-nyeleksi atau di-seleksi… Nah tahap ini sangat penting karena PERMULAAN menentukan HIDUP-MATI nya, BAIK-BURUK nya dan INDAH-JELEK nya sebuah Relationship…THINK BEFORE YOU JUMP… berfikirlah sebelum anda harus menjalani.

Jangan terlalu cepat untuk menentukan sebuah Relationship hanya dengan “merasa” bahwa dialah pasangan yang tepat untuk Relationship… Pikirkan baik-baik apakah pasangan yang kita pilih benar-benar cocok, atau “rasa” itu hanya emosi sementara… Karna aku pernah terburu-buru "merasa" hanya dengan emosi, alhasil pilihan yang aku harapkan tidak sesuai. Tetapi juga jangan TERLALU BANYAK BERFIKIR dan MENGANALISA... karena belum tentu semua yang kita pikirkan itu benar adanya...Yang kita perlukan adalah HARMONISASI “rasa” dan “pikiran” kita kedepan... Sulit untuk saya jelaskan tapi saya yakin kamu mengerti maksudku... Kita akan bahas lebih jauh tentang tahap SELEKSI dan RELATIONSHIP… tapi saat ini aku ingin memberikan beberapa pointer penting yang patut anda semua pahami dan terapkan dalam memilih pasangan anda...

Pertama, dan yang PALING PENTING!

Bangun dulu RELATIONSHIP YANG BAIK dengan DIRIMU SENDIRI barulah kamu bisa membangun relationship yang baik dengan orang lain! Jika kamu sendiri tidak menyukai dirimu, mengeluh, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, mengutuk takdir dan mengatakan hidup itu tidak baik, siapa yang mau TERTARIK membangun RELATIONSHIP dengan kamu?
Jika ada yang menyukai dirimu apapun yang terjadi, kamu selalu positif, ceria, bahagia dan membagikan cinta, maka sudah PASTI banyak orang selalu ingin dekat dengan anda! Dijamin!

Kedua, Jangan menentukan Relationship cuma karena KASIHAN

Ketiga, Jadilah SPESIFIK dalam menentukan seperti apa pasanganmu

Keempat, Teliti dulu SIFAT pasanganmu untuk menghindari "manis didepan dan pahit dibelakang"… ini vital, karena banyak pasangan yang pertamanya saja kelihatan baik, tapi setelah sudah di relationship, semua kelakukannya BERUBAH TOTAL… nanti kita akan bahas bagaimana cara menumbuhkan “pengelihatan” yang dapat melihat langsung perilaku seseorang yang sebenarnya (reading the cues)… stay tune :)

If you like it, then take it… if you don’t, just leave it…

Dalam memulai segala sesuatu, saya selalu berpatokan kepada MINDSET... kenapa mindset? Karena mindset merupakan “setting default” untuk segala macam action dan tujuan kita... Jadi sebelum kita memikirkan bagaimana caranya membuat pasangan kita betah untuk ada dalam relationship, kita harus PIKIRKAN DULU setting standar kita yaitu MINDSET kita sendiri!
Fase SELEKSI adalah fase dimana kedua pasangan saling “meng-audisi”... fase ini juga bisa disebut pedekate...Ingat ini: Jika KAMU tidak MAU PUNYA MASALAH, jangan cari MASALAH!... Maka Fase ini penting untuk “menentukan” apakah calon pasangan kamu itu adalah orang yang akan membuat anda bahagia, atau membuat anda terpuruk.

Orang MENENTUKAN untuk menuju relationship dengan pasangannya hanya dengan dua faktor, yaitu:
1. EMOSI (perasaan)
2. LOGIKA (preferensi, fisik, masa depan cerah, dll)

Nah contoh kecilnya "AKU", selalu MENGAMBIL keputusan untuk berhubungan berdasarkan EMOSI… (secara pribadi aku seperti itu) dan hal ini banyak membuat orang BUTA akan kenyataan… yang ada dipikiranku adalah “aku AKAN MELAKUKAN APA SAJA TERMASUK MENGHANCURKAN HIDUP aku, ASAL BISA SAMA PASANGANku!” dan setelah aku menjalani hubungan, semua tidak “indah” seperti yang aku pikirkan sebelumnya... mulai bermunculan masalah dari pihak keluargalah, masalah kehidupan seperti waktu, keuangan dan kecemburuan, dan hal ini membuat BOSAN satu sama lain, saling tidak sependapat dan akhirnya aku MENYESALI keputusan yang aku ambil itu, karena keputusanku hanya berdasarkan emosi sementara yang membutakan mereka akan realita yang sesungguhya yaitu HIDUP itu LEBIH hanya dari sekedar ROMANTIKA... dengan kata lain, aku tidak bisa mengatur dengan baik Relationship, karena hanya berdasarkan EMOSI... Ada juga yang “spekulasi” seperti diatas dan BERHASIL membuat relationship mereka langgeng karena saling cocok... tapi itu mungkin hanya 1% kemungkinan…

Kebalikannya adalah orang-orang yang menggunakan LOGIKA…
Mereka mencari pasangan yang sesuai PREFERENSI mereka TANPA memikirkan RASA (emosi)…Contohnya seseorang mempunyai PREFERENSI pasangan yang tinggi, putih dan kaya… dia mencari dan menemukan pasangan yang sesuai PREFERENSI nya dan akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan... Tapi sayang karena relationship nya HANYA didasari PREFERENSI dan tidak melibatkan EMOSI atau RASA CINTA, maka tetaplah itu akan sia-sia… Hubungannya akan terasa hambar karena ketidak cocokan masing-masing dalam sifat dan perasaan walaupun secara MANAJEMEN semuanya sudah cocok/sesuai…

I think, yang HARUS diperhatikan adalah HARMONISASI “rasa” dan “logika” untuk manajemen kedepan... Ingat juga bahwa kita adalah orang-orang yang masih hidup dalam budaya ASIA yang MASIH HARUS dicampuri dengan urusan KELUARGA… kita tidak bisa SEPENUHNYA INDEPENDEN…Jadi pastikan KELUARGA kitapun MERESTUI pasangan kita jika kita tidak mau pusing dengan urusan keluarga!

I’ve been on this situation SO MANY TIMES!... specially with my MOM… sadly we have DIFFERENT characteristic for my… but its ok… finally he REALIZE that my HAPPINESS is based on ME… thank you mom…

Pikirkan juga tentang hal-hal yang akan kalian hadapi di fase Relationship untuk kemudahan mengaturnya nya… tapi jangan terlalu menganalisa secara berlebihan dan terlalu STRICT!... Kuncinya adalah HARMONISASI kebebasan dan peraturan yang sehat! Pastikan pasangan kalian itu PASANGAN YANG SEHATI DAN SEPENGERTIAN! Jangan hanya mentang-mentang cantik atau ganteng langsung jadian!... paling pusing dalam menjalani hubungan dengan orang yang CEMBURUAN, CURIGA’AN dan NGGAK PENGERTIAN… Relationhip itu ditujukan untuk membawa kita lebih tinggi… bukan membawa kita lebih dalam MASALAH dan KEHANCURAN! Relationship should make our life HAPPY, otherwise its NOT a RELATIONSHIP…

When you are NOT HAPPY in your Relationship for a long time, don’t TRY to fix it… CUT IT and start FRESH!

Pikirkan quote diatas… Itu adalah quote yang sangat keras! Didalam kelembutan diperlukan kekerasan untuk membuatnya tetap lembut… Didalam kebaikan diperlukan ketegasan untuk mempertahankannya… Jangan bermain-main dengan emosimu dan pasanganmu selayaknya drama sinetron, telenovela atau film romantis… Hati-hati dengan “ilusi” rasa KASIHAN yang justru dapat menjurus ke kehancuran… Kadang sedikit ketegasan dan kekerasan diperlukan untuk menciptakan perdamaian… Jangan pernah mentoleransi sebuah HUBUNGAN yang sesungguhnya hanya sebuah “status”

Relationship should make our life HAPPY. otherwise it’s NOT a RELATIONSHIP…

Kelima, Jadilah “kejam” sebelum menjadi “penyayang”... HA? Opo iki maksudnya ? Ini kebalikan dari "manis didepan dan pahit dibelakang"… justru kita HARUS PAHIT DIDEPAN dan MANIS DIBELAKANG…

Jika kita jadi diri kita apa adanya dengan segala KEKURANGAN dan KELEBIHAN kita, jika kita jelas dengan apa yang kita inginkan, jika kita JELAS dengan PERATURAN yang akan dijalankan bersama dalam relationship, maka itulah DIRI KITA SEBENARNYA TANPA MANIPULASI! Jika pasangan kita dapat menerima kita apa adanya sejak pertama kali, maka sudah jelas Relationship kita akan Langgeng… Kebanyakan orang menjadi sangat MANIPULATIF sebelum menjalani suatu hubungan … mereka baik, perhatian dan menjadi manis semanis-manisnya… diri mereka yang SESUNGGUHNYA baru ditampilkan sesudah menjalani hubungan itu dan pada akhirnya menjadi konflik karena mereka menjadi SANGAT BERBEDA dari sebelumnya… HAAAAAAAH.................... !!!

Keenam, dan yang paling KONTROVERSIAL!...
Jangan PERNAH berfikir BAGAIMANA MEMBUAT RELATIONSHIP kamu LANGGENG! Never Ever Think “HOW” To Make Your Relationship Last!... Karena pada saat kamu memikirkan bagaimana membuat relationshipmu langgeng, pada saat itu pula kamu menyatakan ketakutanmu untuk kehilangan pasanganmu dan ketakutan itulah yang akan membuat kamu dan pasanganmu sengsara!... Dimana ada KETAKUTAN, disitulah akan ada KETER-IKAT-AN yang MEMAKSA!...

Dimana ada PEMAKSAAN disitulah ada BEBAN!...
Dimana ada BEBAN disitulah PERMULAAN DARI KESENGSARAAN dan AKHIR DARI KEBAHAGIAAN!...

Dan pada saat relationship yang mengikat itu menyengsarakanmu, maka kamu tidak akan lepas dari sengsara itu karena kamu TERIKAT sebuah RELATIONSHIP!...
Disitulah BIBIT dari perselingkuhan, kepenatan, kebosanan dan kesengsaraan yang TERPENJARA oleh sebuah RELATIONSHIP yang membuat anda tidak dapat berbuat apa-apa selain menyesal dan terus menjalani RELATIONSHIP sebatas “status”...

Semoga KAMU BERFIKIR SAAT INI !!!

Relationship bukan tentang KETERIKATAN apalagi MEMILIKI SATU SAMA LAIN!… Relationship adalah tentang KEPERCAYAAN akan sebuah KEBEBASAN!... Semakin kamu MENGIKAT pasanganmu atas nama relationship, Semakin cepat pasanganmu akan meninggalkanmu... Semakin sedikit aturan yang kamu berikan ke SIAPAPUN, semakin mereka menyukaimu... karena pada dasarnya tidak ada satupun manusia yang suka diperintah (Chapter I from the Book “How to Win Friends and Influence People” by Dale Carnegie)

Semakin kamu MEMBEBASKAN seseorang secara BATIN, semakin mereka INGIN MENGIKATKAN DIRI kepadamu!... Lihatlah BINATANG peliharaanmu… semakin kamu ikat, semakin SENGSARALAH binatang tersebut… Tapi jika kamu LEPAS dan beri KEBEBASAN, maka binatang tersebut akan selalu mencarimu untuk bermain bersamamu! Tanyakan kepada semua pegawai dan kariyawan… mana yang mereka pilih… pekerjaan yang BANYAK PERATURAN, atau pekerjaan yang SEDIKIT PERATURAN…

Kamu TIDAK AKAN PERNAH BISA mengontrol orang lain termasuk pasanganmu kecuali diri kamu sendiri... Kesetiaan , Loyalitas dan Rasa Sayang datang dari KESADARAN DALAM HATI, bukan PAKSAAN... Jangan pernah CEMBURU, MENGIKAT apalagi MENGGURUI...

Ketujuh, Nyatakan DENGAN JELAS dan TEGAS bahwa jika pasangan kamu MENYALAH GUNAKAN kepercayaan yang kamu berikan, maka selesailah sudah relationshipmu dengannya... Dan jika itu terjadi, DIA BUKANLAH PASANGAN YANG TEPAT untuk KAMU !... Jangan sampai kamu menikah dengan pasangan yang sebetulnya bukan untukmu... lebih baik sebelum menikah kamu pastikan dulu mana yang terbaik untukmu... tidak secara emosional.

Kedelapan, jadilah yang TERBAIK untuk HARI INI... Buatlah RENCANA untuk masa depan RELATIONSHIP mu, tapi JANGAN TERIKAT dengan rencana tersebut… relakan apa yang akan terjadi nanti… Buang jauh semua ke-khawatiranMu! Fokuskan perhatianmu UNTUK SAAT INI, DETIK INI dan MOMEN INI dengan pasanganmu karena kamu belum berada di masa depan… satu-satunya saat untuk kamu agar dapat berbuat sesuatu adalah SAAT INI…

Make the BEST of TODAY and Tomorrow will be GREAT...

Kesembilan, Ini bukan tentang MEMBERI ataupun MENERIMA… ini adalah BERBAGI… Banyak pasangan yang tidak seimbang dalam BERBAGI… ada salah satu dari pasangan yang hanya mau MENERIMA, ada juga salah satu dari pasangan yang hanya MEMBERI dan terus MEMBERI tanpa memikirkan pasangannya MENYALAH GUNAKAN pemberiannya tersebut… Relationship itu bagaikan TEAMWORK…

You CAN’T MAKE IT WITHOUT TEAM WORK…

This is not about Giving or Taking, this is about Sharing…

Apa sih kesetiaan? ada yang bisa jawab?
jawablah sesuai keinginan masing-masing...
sekarang pertanyaanku lebih intense lagi...
siapa yang mau punya PASANGAN YANG SETIA?
siapa yang mau punya TEMAN YANG SETIA?

Pasti kita semua mau punya teman atau pasangan yang setia... Nah kalo kita semua menginginkan kesetiaan orang lain, kita tanya pada diri kita sendiri: APAKAH KITA ORANG YANG SETIA ATAU TIDAK?
Ga usah dijawab disini... karena pasti jawabannya "YA! saya ORANG YANG SETIA"... dan saya yakin itu cuma EGO MEMBELA DIRI MASING-MASING aja... jawab aja dalam hati sejujur-jujurnya...

Pikirin deh baik-baik pertanyaan itu...

So rumusnya adalah "berikan kesetiaan" = "mendapatkan kesetiaan" bukannya "mengharapkan kesetiaan" = "mendapatkan kesetiaan" apalagi "memaksakan kesetiaan" = "mendapatkan kesetiaan" that is bulshit!...its easy of you think NOT SELFISH-LY... remember, dont use EGO... use your HEART... nah kalo ada yang RAGU akan kesetiaan cewe karena pengalamannya yang lalu-lalu dikecewakan cewe dll dll, well, why is that? ada TRIGGER di otak kita yang namanya GENERALIZATION yang fungsinya "men-standarkan" satu golongan atau hal tertentu menjadi ssuatu yang sama... nah topik ini cukup panjang kalo dibahas, tapi intinya hati-hati dengan GENERALIZATION... kalo kita gunakan POSITIF, maka jadilah POSITIF... kalo NEGATIF maka jadilah NEGATIF... sekarang coba kita pikir pake otak jangan pake ego:

apakah SEMUA CEWE ato COWO ITU SAMA?
apakah SEMUA CEWE ato COWO ITU GA SETIA?
adakah CEWE ato COWO YANG SETIA DI DUNIA INI?

Jawabannya:
Semua cewe ato cowo TIDAK SAMA... ada yang SETIA dan ada yang TIDAK... dan jangan tanya faktornya... karena terlalu banyak... intinya, "setia" dan "tidak setia"... adakah cewe ato cowo setia di dunia ini? YA ADA LAH!... tapi gimana bisa ketemu kalo kita MALAH CARINYA CEWE ato COWO YANG GA SETIA TERUS-MENERUS? dan ingat ini : SETIA atau TIDAK SETIANYA seorang cewe ato cowo, itu TERGANTUNG masing-masing !... maksudnya? maksudnya adalah: secara psikologis dan biologis, cewe to cowo manapun INGIN sama-sama saling bisa mengerti satu sama lain !... Cewe ingin cowo nya bisa memimpin tapi bukan berarti memaksa secara ego. Dan cowo juga ingin cewe nya patuh. Intinya saling mengerti, menghormati, menghargai, jujur dan setia.

Jika pada saat si cowo TIDAK BISA MEMIMPIN, atau MENYERAHKAN TAHTA kepemimpinan ke si cewe... tebak apa yang terjadi? si cewe pasti jadi SEMENA-MENA terhadap si cowo! Bukan karena mereka MAU semena-mena... tapi secara biologis, wanita itu dikuasai 80% emosi yang moody!... jadilah mereka PEMIMPIN yang MOODY!...

Itulah yang sering kejadian sama banyak cowo saat mereka MEMBERIKAN tahta kepemimpinan mereka ke cewe... dan cowo2 ini bingung kenapa cewenya jadi sensitif, cepet marah, selingkuh dan lain lain... karena cowo berfikir LOGIKA dan cewenya MEMIMPIN secara EMOSI!...

Maaf kalau tulisan ini kurang berkenan...

Sunday, October 2, 2011

Tidak Ada Yang Mengalahkan Ketekunan


Menurut Napoleon Hill dalam Think and Grow Rich, rahasia menaklukkan rintangan adalah ketekunan. Ketekunan adalah usaha terus menerus tanpa berhenti dan menyerah untuk mencapai impian dan tujuan hidup kita. . Ketekunan adalah rahasia untuk meraih kekayaan dan keinginan kita katanya. Ketika kita menekuni untuk mencapai tujuan dan cita-cita hidup kita maka cepat atau lambat kita akan berhasil.
Menurut Napoleon Hill dalam Think and Grow Rich, rahasia menaklukkan rintangan adalah ketekunan. Ketekunan adalah usaha terus menerus tanpa berhenti dan menyerah untuk mencapai impian dan tujuan hidup kita. . Ketekunan adalah rahasia untuk meraih kekayaan dan keinginan kita katanya.
Perkataan seorang Penulis buku sukses kelas dunia yaitu John C Maxwell diatas ada baiknya kita renungkan. “Jika anda tetap melakukan apa yang anda lakukan. Anda tetap mendapatkan apa yang selalu anda dapatkan”.
Thomas Alva Edison pernah mengatakan “banyak kegagalan hidup yang dialami manusia disebabkan mereka tidak mengetahui bahwa mereka telah selangkah lebih dekat dengan kesuksesan. Ini terjadi ketika mereka kemudian menyerah pasrah”.
Judul diatas yaitu “tidak ada yang mengalahkan ketekunan” mengandung makna bahwa apapun kehebatan dalam diri kita, seperti kepintaran, ketampanan/kecantikan, kekuatan tubuh, semua itu tidak akan berarti apa-apa jika tanpa ketekunan. Semua itu dapat dikalahkan oleh ketekunan.

Kisah hidup seorang Arnold Scwarzenegger dapat menjadi inspirasi bagi kita.
Dia adalah seorang pemuda yang dilahirkan disebuah desa kecil tanpa alat komunikasi. Bahkan hanya ada satu TV di restoran di desa itu. Keluarganya juga sangat sederhana. Prestasi sekolahnya pun rata-rata. Tapi dia dikenal sebagai seorang yang periang dan bersemangat. Dia bercita-cita untuk menjadi seorang besar. Salah satu cita-citanya adalah menjadi atlet Binaragawan. Berbekal latihan dan ketekunan pada tahun 1966 sampai tahun 1975 dia memenangkan 5 gelar Master Universe dan 6 gelar Mr Olimpia. Kemudian dia bercita-cita lagi menjadi seorang bintang film. Dengan tekun dia menawarkan diri sebagai artis. Banyak sutradara yang awalnya meragukan kemampuannya. Namun akhirnya dia berhasil membintangi beberapa film yang akhirnya menjadi film terlaris seperti Conan the Barbarian, Terminator, Command, Predator, Commando, Total Recall dan lain-lain.
Setelah sukses didunia film. Kemudian dia bercita-cita menjadi seorang politisi dan Gubernur. Dia menekuni cita-citanya tersebut sampai akhirnya di terpilih sebagai Gubernur California dari Partai Republik. Dia diramalkan menjadi salah seorang Calon Presiden dari Partai Republik. Kenapa seorang Arnold Scwarzenegger berhasil menggapai cita-citanya. Kuncinya adalah ketekunannya dalam menggeluti bidang yang dia inginkan sampai berhasil.

Lalu bagaimana caranya menggunakan ketekunan sebagai kekuatan untuk meraih kebahagiaan sejati, dunia dan akhirat. Menurut Napoleon Hill seseorang bisa belajar untuk menjadi tekun. Apa sumber ketekunan? Jawabannya sebagai berikut:
1.      Kepastian tujuan. Mengetahui yang kita inginkan adalah langkah paling pertama untuk mengembangkan ketekunan. Tujuan akan memaksa seseorang untuk mengatasi berbagai kesulitan.
2.      Keinginan. Keinginan adalah sarana memelihara ketekunan. Keinginan yang kuat akan mengalahkan kemalasan. Keinginan akan membuat anda mengejar sasaran-sasaran yang anda inginkan dengan tekun.
3.      Kemandirian. Keyakinan dan kepercayaan pada diri sendiri akan membuat anda berbuat dan bertindak untuk mencapai keinginan dan rencana anda dengan tekun sampai selesai, tanpa tergantung pada orang lain.
4.      Kepastian rencana. Rencana yang tersusun dengan jelas dan rapi akan mendorong anda dengan tekun untuk melaksanakannya.
5.      Pengetahuan akurat. Mengetahui cara dan strategi meraih tujuan, berdasarkan pemahaman ataupun pengalaman orang lain dapat mendorong ketekunan. Daripada hanya menebak-nebak apakah cara yang dilakukan efektif atau tidak
6.      Kerjasama. Simpati dan pengertian dengan orang lain akan mendorong ketekunan kita untuk mencapai tujuan.
7.      Kekuatan kemauan. Kemauan yang kuat dan focus untuk mencapai tujuan akan menimbulkan ketekunan
8.      Kebiasaan. Ketekunan merupakan akibat dari kebiasaan. Pikiran kita menyimpan informasi tentang keberhasilan ataupun kegagalan yang kita miliki. Rasa takut, rasa malas, hanya bisa dikalahkan dengan keberanian melakukan pengulangan tindakan (kebiasaan).

Kemudian bagaimana menumbuhkan ketekunan dalam diri. Ada empat langkah sederhana versi Napoleon Hill yang tidak membutuhkan banyak kecerdasan, banyak pendidikan formal, dan bahkan hanya sedikit waktu dan usaha, yaitu :
1.      Sebuah tujuan yang pasti dan didukung oleh hasrat keinginan yang menyala untuk mencapainya
2.      Sebuah rencana yang pasti, dinyatakan dalam tindakan terus menerus
3.      Sebuah pikiran yang tertutup rapat dari semua pengaruh negative dan menurunkan semanat, termasuk saran negative dari saahabat, kerabat dan orang terdekat kita
4.      Sebuah persekutuan bersahabat dengan satu orang atau lebih yang akan mendorong kita mengikuti sampai akhir baik rencana maupun tujuan.

Inilah langkah yang akan mengantarkan kita menuju kejayaan, kebebasan berpikir, kebahagiaan sejati dan kekayaan hidup. Langkah-langkah yang akan mengubah ketakutan kita menjadi keberanian dan mengubah tantangan menjadi peluang. Rahasianya adalah ketekunan. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang tekun dalam menggapai tujuan hidup kita. Apapun yang terjadi. Buktikan sendiri bahwa ketekunan dapat mengalahkan segala rintangan.
Power of Dream Slideshow: Aozora’s trip to Semarang, Jawa, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Semarang slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.