Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, September 1, 2011

Jangan gtu donk ama pacar ! Sayangi dia .... (Emotional Abuse)


Masa pacaran merupakan masa yang mengasyikkan bagi seseorang yang pernah atau sedang mengalami. Ada pepatah pepatah mengatakan: "Dunia seakan-akan milik berdua".  Banyak sekali perbedaan yang terjadi bagi mereka yang berpacaran.  Perbedaan yang ada di antara mereka yang berpacaran antara lain adalah tidak sependapat mengenai gagasan-gagasan yang muncul, misalnya: ada aturan tidak tertulis harus menurut dengan pasangannya, melarang pasangannya untuk berteman dengan yang lain atau tidak berminat untuk mengikuti keinginan pasangannya seperti mengajak makan bersama, berjalan-jalan, bahkan melakukan hubungan seksual.
Hal ini berbeda dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang sudah menikah. Mereka memiliki komitmen yang lebih tinggi untuk benar-benar menghasilkan keturunan dalam sebuah ikatan rumah tangga. Berpacaran berbeda dengan bertunangan. Bertunangan adalah bersepakat (biasanya diumumkan secara resmi atau dinyatakan di hadapan orang banyak) akan menjadi suami-istri. Definisi ini justru saling bertentangan. Biasanya pacaran tidak diumumkan secara terbuka kepada orang banyak.
Jika hal-hal tersebut tidak dapat di netralisir, memberikan jawaban yang "kompromis" yaitu membuat senang pasangannya, maka dapat mengakibatkan tumbuhnya "penyakit" yang mengarah pada perlakuan buruk yang didapat dari pasangannya, yaitu timbulnya kekerasan dalam pacaran yang sering disebut dating violence. Kekerasan dalam pacaran atau dating violence merupakan bagian dari bentuk kekerasan terhadap perempuan yang berbasis gender. Kekerasan yang terjadi selama pacaran ini bisa berbentuk penghinaan, pelecehan seksual, pemukulan, ingkar janji dan bahkan sampai pemerkosaan (Trianingsih, 1997).
Fathul, dkk (2007), mengemukakan kekerasan dalam pacaran mengalami berbagai macam distorsi dengan pemahaman tentang hal-hal yang terjadi selama berpacaran. Sering didengar pengakuan bahwa cemburu adalah bagian dari cinta, padahal sering kejadian kekerasan dimulai dari alasan ini. Pasangan menjadikan perasaan cemburu untuk mendapatkan legitimasi untuk melakukan hal-hal yang possessive dan tindakan mengontrol dan membatasi. Kekerasan dalam berpacaran yang umum terjadi adalah kekerasan seksual dimana korban dipaksa mulai dari melakukan ciuman sampai dengan intercourse atau berhubungan seksual. Remaja berani melakukan hubungan seksual asalkan mereka tidak mengalami kehamilan, sehingga hubungan seksual yang dilakukan lebih pada “safe-sex”, tidak ada rasa tanggung jawab sedikit pun didalamnya.
Kekerasan dalam pacaran adalah kekerasan atau ancaman melakukan kekerasan dari satu pasangan yang belum menikah terhadap pasanganannya yang lain dalam konteks berpacaran atau tunangan. Bentuk kekerasan lain yang kerap dialami oleh perempuan yang berpacaran yaitu kekerasan emosional (emotional abuse).
Menurut Engel (2002), kekerasan emosional adalah tingkah laku non-fisik ataupun sikap yang dilakukan untuk mengontrol, mengintimidasi, menaklukkan, merendahkan, menghukum atau mengucilkan orang lain. Namun ada pula jenis tingkah laku fisik yang dapat dikategorikan sebagai kekerasan emosional yaitu tindak kekerasan simbolis (symbolic violence) yang meliputi tingkah laku yang mengintimidasi seperti membanting pintu, menendang tembok, membanting benda-benda tertentu, menyetir secara ugal-ugalan saat korban berada dalam kendaraan, dan mengancam akan atau menghancurkan sesuatu yang menjadi milik korban. Bentuk kekerasan emosional termasuk didalamnya adalah menghina, mengutuk, meremehkan, mengancam, meneror, menghilangkan hak milik, mengasingkan dari keluarga dan teman, termasuk pula perilaku possessiveness seperti cemburu yang berlebihan.
Menurut Loring (1994) kekerasan emosional merupakan salah satu bentuk tindak kekerasan yang paling sering ditemui, namun orang yang terlibat di dalamnya seringkali tidak menyadarinya. Korban seringkali bahkan yakin bahwa merekalah yang bersalah sehingga hubungan interpersonal yang mereka jalin tidak berjalan dengan baik. Subjek tidak menganggap bahwa sebenarnya dirinya adalah korban.
Adanya "pembenaran" yang dialami oleh mereka yang berpacaran bahwa seseorang yang sedang berpacaran adalah urusan individu berdua menjadikan sulitnya pihak luar, diluar individu yang sedang pacaran untuk dapat melakukan antisipasi jika terdapat hal tidak mengenakkan yang dialami perempuan dalam berpacaran.
Pacaran sering memunculkan sikap-sikap yang tidak realistik dan bahkan dapat menjadikan posisi perempuan menjadi tidak berdaya dan dependen, masuk dalam kerangka psikologis yaitu merasa aman, susah untuk melepas diri jika bersama dengan pasangannya dan menimbulkan rasa bangga memiliki pasangan. Akan tetapi realitas yang ada, telah menjadikan perempuan merasa tersudut jika tidak dapat memberikan kontribusi yang memadai seperti tanggapan yang manis ketika pasangannya datang berkunjung. Konflik-koflik mengenai rasa hati, tidak enak dengan keluarga, tetangga dan masa depan, sering menjadikan perempuan tidak dapat bersikap asertif, bersikap tegas yaitu memiliki daya tawar memutuskan segera pasangannya atau tidak melanjutkan ke jenjang perkawinan jika mengalami kekerasan dalam berpacaran.
Adanya perilaku untuk “menguasai pasangan” dalam berpacaran merupakan salah satu penyebab tindak kekerasan dalam pacaran, dahulu laki-laki akan merasa bersalah dan dicemooh temannya jika melakukan kekerasan terhadap perempuan. Sekarang, laki-laki akan merasa bangga, tersanjung jika perempuannya selalu menuruti segala kemauannya. Frame ini memunculkan pemikiran bahwa perempuan harus menuruti pasangan dan inilah awal jadinya kekerasan dalam pacaran. Dimana, laki-laki menjebakkan dirinya dalam pikiran sempit, semu merasa dirinya paling berkuasa. Pemikiran ini yang sebaliknya direkonstruksi pelaku kekerasan agar bisa memahami perbedaan, kekurangan, kelebihan dan saling menghormati antara laki-laki dan perempuan dengan tujuan tidak melakukan kekerasan dalam pacaran.

0 comments:

Post a Comment

Power of Dream Slideshow: Aozora’s trip to Semarang, Jawa, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Semarang slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.