“Aku
bayangkan bahwa saat ini kau merasa seperti Alice yang jatuh ke dalam lubang
kelinci?” ujar Ratio.
“Kira-kira
begitu,” jawab Hati
“Aku
bisa melihat di matamu. Wajahmu seperti orang yang menerima apa yang ia lihat
karena ia berharap untuk terjaga. Ironisnya, ini tak jauh dari realitas. Kau percaya
takdir Hati?” tanya Ratio.
“Tidak...,”
tandas Hati
“Kenapa
tidak???” Ratio balik bertanya
“Sebab
aku tak suka jika aku tak bisa kendalikan hidupku,” tegas Hati
“Aku
paham sekali maksudmu. Aku akan jelaskan kenapa kau ada disini. Kau ada di sini
karena kau tahu sesuatu. Kau tak bisa menjelaskan apa yang kau ketahui itu. Tapi
kau merasakannya. Kau merasakannya selama hidupmu ini. Ada yang tak beres
dengan hidupmu ini. Kau tak tahu apa yang salah tapi itu ada, seperti sesuatu
dalam benakmu yang membuatmu gila. Perasaan itulah yang membawamu kepadaku, kau
paham ucapanku ini?” pancing Ratio
“Matrix?”
tebak Hati
“Kau
mau tahu apa itu? Matrix ada di mana-mana. Ia ada di sekeliling kita. Bahkan saat
ini di ruangan ini. Kau bisa melihatnya jika kau melihat jendelamu atau jika
kau menyalakan televisimu. Kau bisa merasakannya saat kau pergi ke suatu
tempat, saat kau berjalan. Itu adalah dunia yang disajikan di depan matamu
untuk menutupi realitas,” jelas Ratio
“Realitas
apa???” tanya Hati
Ratio
segera menjawab, “Bahwa kau adalah seorang budak. Seperti yang lain, kau lahir
dalam keadaan terkekang, lahir dalam penjara yang tak bisa kau cium, rasakan
atau sentuh. Sebuah penjara bagi pikiranmu. Sayangnya, tak ada yang bisa
ceritakan apa itu Matrix. Kau harus melihatnya sendiri. Inilah kesempatan
terakhirmu. Setelah ini kau tak bisa kembali lagi. Kau telan pil biru, ceritanya
berakhir, kau bangun di ranjangmu dan percaya apa pun yang mau kau percayai. Kau
telan pil merah, kau tinggal di Negeri Ajaib dan aku tunjukkan sejauh mana
lubang kelincinya. Ingat, aku hanya menawarkan realitas. Tak lebih dari itu!”







1 comments:
nice share,follow sukses.follback ya http://sejarahpaser.blogspot.com .Terus semangat... :)
Post a Comment