Bagaikan Luka di Bawah PeRBan
Cerita tentang sebuah luka
Sedikit demi sedikit mengangah… hush!!!
Perban putih itu terbalut rapi, pita simpul manis tepat di bawah luka. Sakit
tak terasa, karena saya sudah terbiasa dengan yang namanya LUKA! Apa yang
dirasa sudah tidak ada, yang ada hanya luka tanpa rasa.
Kini aku
mulai terbiasa dan membiasakannya!
Setiap hari terbangun, kuhela nafas,
panjaaaaaaaaaaang … selalu yang kulihat sebuah LUKA. Heyy,!!! Jangan kau
sembuhkan lukakku, karna semua itu PERCUMA! Jika kau tak benar-benar bisa
menyembuhkan, jangan kau lakukan!
Kalau pada akhirnya, kau tetap saja akan
menambah luka, lebih baik jangan kau coba menyembuhkan! Mungkin aku terlihat
seperti pesakit. Terbujur kaku, terkulai lemah, merintih kesakitan. Tapi semua
akan aku rasakan, meski terkadang terlihat sulit, akan aku coba… rasanya
seperti mati tapi dalam keadaan hidup dan tak berdaya.
Derai air mata, sudah tak berarti. Luka
ini lebih hebat dari biasanya. Membuat isi pikiran tak tentu, penuh
tekanan-tekanan yang akupun tidak tahu, APA???
Hanya alunan music, berirama piano, tik
tik tik tik tik .. (the meadow new moon) yang menemani lukaku. Setidaknya ada
yang menemani, meski music nya sangat galau, sumbang, tapi aku cukup berteman
dengan keadaan ini.
Lebih baik aku berteman
dengan LUKA, karna jika aku terluka, aku akan tetap merasa baik-baik saja.








0 comments:
Post a Comment