Aku menunduk dan
melihat bayangan seekor burung pipit yang sedih dan lemah. Selalu berusaha
menerjang angin. Dan walaupun pasir-pasir yang bertebaran menusuki dagingnya.
Dia berjuang dengan sekuat tenaga, mengepakkan sayapnya. Menahan punggungnya
yang penuh beban. Aku melihat ini, bayanganku, melengkung dan berputar di bumi.
Dan duka cita membakar goresan dalam pada harapan gelapku di dalam.
Aku pernah melihat
gelas, dan bukan karena separuhnya yang kosong, yang membawa keputusasaan.
Tapi, bagian yang tumpah adalah madu. Madu yang aku rindukan dan aku perlukan,
yang aku tangisi. Aku berhenti dan mawar yang kucium, tapi itu adalah mawar
yang palsu.
Aku memiliki jiwa
dan spirit, tapi mereka sudah melupakan dan tidak saling mengenal. Ketika aku
memeras titik merah darah keberanianku ke dalam kepakan sayap-sayapku. Aku
benar-benar tersesat di jalan yang telah kupetakan. Aku tersesat tepat di
tempat yang telah aku pilih.
Setiap petunjuk
yang aku gambar ada di sini. Dan aku semakin tersesat daripada kau hidup. Di
dalam pengetahuan yang gelap ini, akhirnya aku menemukan harapanku. Di dalam
keberanian murni yang tak aku punyai sama sekali. Aku tidak akan pernah
mencapai tempat tujuanku.
Apapun
halangannya, darah, air mata, robekan jiwaku. Ketika sayap-sayapku tersayat
oleh kesedihan yang telah aku buat sendiri. Dan di dalam harapan yang tidak
memiliki harapan ini. Aku menemukan angin. Tidak hanya nagin, tetapi angin di
dalam angin.
Aku berhenti mengepakkan sayap, membebaskannya, dan mulai
mengapung. Perubahan di dalam udara sejuk kehidupanku, kehidupan yang sejati
tidak palsu. Segala sesuatu baru dan aku terbang melayang. Kemudian membumbung
tinggi melangit.
Sayap-sayapku
memeluk langit dan jiwaku kembali mengenal spiritku. Madu itu bukan di dalam gelas
lagi. Sebab madu itu telah memenuhi hatiku. Dan mawar harum itu adalah setiap
mawar ditubuhku.
Aku tidak lagi
berjuang dan menerjang sebab sekarang aku hidup. Pasir dan angin bersama-sama
dengan perjalananku. Saudara-saudaraku disampingku, memeluk erat. Aku memandang
seluruh dunia bernafas keindahan yang murni di dalam dan di luar. Beban beratku
menguap bersama keluh kesahku. Dan memenuhi awan-awan yang mengacak-acak
rambutku.
Aku menunduk.
Bayang-bayang burung pipit yang sedih tidak ada lagi. Aku hanya melihat
sayap-sayap besar burung Elang yang mengembang. Dalam angin dari semua angin
yang selalu dimilikinya.








4 comments:
Blogwalking!! :D
Jangan sungkan mampir ke Vlog saya ya.. mrcybertronz.blogspot.com
Thx
keren kata"nya, berbobot hhehe
Salam kenal yua... Jangan lupa mampir dan tinggalkan komentar... Follow juga ya gan...
Elang simbol kekuatan dan Pipit simbol kelemahan.
menarik ya...
aku follow blog mu.
Menanti kunjungan dan follo back. terima kasih dan salam kenal
Post a Comment