Aku sedang memerankan peran utama dalam kehidupanku.
Saat ini aku
sedang berada dalam kelas tari, dimana aku sedang belajar menguasai gerakan
demi gerakan. Aku, kamu, mereka adalah murid-murid kehidupan. Memperlajari
cara-cara baru untuk bergerak dalam harmoni dengan irama musik kehidupan yang
terus berubah. Dengan caraku sendiri, mungkin aku juga merupakan guru, saat aku
berbagi apa pun yang aku pelajari dari suatu kehidupan (hitam dan putih) kepada
orang lain. Setiap hari, aku mempelajari arti dari menghargai diriku sendiri,
menghargai orang lain dan diri terbaikku.
Tergantung pada
hari dan tariannya, terkadang aku masih tersandung dan terpeleset dari harmoni.
Aku pun juga sempat terhenti, mengambil nafas dalam-dalam beberapa kali, dan
kemudian melangkah lagi bersama irama musik. Namun, aku belajar dan itulah yang
terpenting. Instruktur (ibuku), yang sangat tegas dan sabar itu, sesekali
membujuk dan kadang menyeretku ke lantai dansa. Aku yakin bahwa tarianku akan
semakin baik setiap kali aku berlatih. Akan tetapi, aku juga tahu bahwa “aku
akan selalu belajar”. Aku akan selalu menguasai langkah-langkah baru untuk
menghargai dan mensyukuri anugerah-anugerah yang aku miliki.
Sebuah gambaran
klasik yang kadang-kadang digunakan sebagai analogi untuk proses hidup ini,
adalah gambaran api (panas) yang menyala di bawah sebuah mangkuk (tubuhku) yang
menampung air (pendingin yin dalam diriku). Api memanaskan air dan menciptakan
uap, yang mewakili apa yang disebut oleh orang China sebagai ch’i. Ch’i adalah
energi pemelihara yang aku butuhkan untuk hidup. Ketika segala hal dalam
keadaan tidak seimbang, api menciptakan efek penghangat yang alami. Namun, jika
api terlalu panas, air akan mulai mendidih. Jika ini berlangsung lama, panas
akan menghabiskan air dan menghamburkan energi yang aku butuhkan. Begitu air
menguap, aku benar-benar akan jatuh karena tidak mampu menghasilkan energi
lagi.
“Satu
bulan, aku merasa bahwa aku punya banyak energi dan bulan berikutnya aku merasa
seolah jatuh dari tebing, terbaring di tempat tidur dan tidak bisa bergerak”.
Apakah aku
bergerak dengan tangki penuh atau bergerak dengan ilusi bahwa tangkiku penuh?
Apakah aku akan membiarkan tangkiku menjadi kosong, sebelum mengisinya lagi,
memaksanya untuk berjalan dan karenanya beresiko mogok? Apakah aku membiarkan
cahayaku padam karena aku tidak punya minyak yang cukup dalam lampu batinku? Singkatnya,
dimanakah aku meletakkan diriku sendiri dalam daftar prioritas hidup?
Bagaimana jika aku
membalikkan urutan itu? Bagaimana jika aku terlebih dahulu memastikan lampuku
memiliki minyak yang cukup di dalamnya sebelum menyinari jalan bagi yang lain?
Bukankah itu akan membantu menjaga agar lampuku tetap menyala dengan terang
sehingga aku bisa memberikan lebih banyak cahaya kepada orang lain?
Aku menghargai
diri sendiri ketika aku menerima dukungan. Namun, seperti burung-burung dalam
migrasi mereka yang panjang dan berat, aku juga harus mengandalkan kekuatan
batinku sendiri untuk melewatinya. Melayari paradoks “menerima dukungan dan berjuang sendiri”, memerlukan rasa
keseimbangan yang tajam. Bisa jadi ada garis samar antara menerima bantuan dan
membiarkan seorang penolong mengontrol hidupku. Aku akan berusaha tetap berada
dalam keseimbangan jika aku memastikan diriku memahami dengan jelas, Apa yang aku harapkan dari mereka yang
menawarkan bantuan? dan Apa yang mereka harapkan sebagai balasannya?
Apapun bentuk bantuan yang diberikan, ingatlah pada akhirnya, akulah yang
berhak mengambil keputusan yang langsung berpengaruh pada diriku sendiri.
“Aku harus menjadi binatang pemandu dalam
hidupku.”
Didalam hubungan
yang akrab sekalipun misalnya berpacaran, dimana dukungan timbal-balik
seharusnya menyertaiku. Sangatlah penting untuk mencapai keseimbangan antara
bersandar pada orang lain dan tetap berdiri tegap di atas kaki sendiri. Di
dalam salah satu karya sastra favoritku, dari Kahlil Gibran, seorang penulis Libanon,
dia berkata: “Biarkan ada ruang antara
kebersamaanmu itu... Bernyanyi dan menarilah bersama, dalam segala suka cita,
tapi biarkanlah masing-masing menghayati ketunggalannya, bahkan tali kecapi
masing-masing punya hidup sendiri walau lagu yang sama sedang
menggetarkannya... Tegaklah berjajar, namun jangan terlampau dekat, bukanlah
tiang-tiang candi tidak dibangun rapat, dan pohon ek serta pohon cypress tiada
tumbuh dalam bayangan masing-masing”.
Seperti kisahku
juga memperlihatkan mengapa kemandirian itu mutlak. Terkadang aku mengeluh
kepada ibuku, bahwa aku merasa sangat semangat dalam segala hal, tetapi ketika
aku mendapati ada masalah dengan hubunganku, yang tidak lain adalah sumber
dukungan dan meneruskan aktivitasku sehari-hari, suasana hati ini senyap. “Apa
yang harus aku lakukan?” Aku bertanya. Ibuku yang bijaksana menjawab dengan
sebuah analogi yang arif: “Sesekali kamu harus seperti orang yang berjalan
melewati hutan dalam gelap bersama seorang teman. Akan datang waktunya ketika
dua orang itu harus berpisah dan masing-masing melanjutkan perjalanannya
sendirian. Tak seorang pun akan takut terhadap kegelapan jika dia membawa
lenteranya sendiri.” Jika situasinya demikian, aku harus mampu mengandalkan
diri sendiri untuk menerangi jalanku.
Nasihat yang masuk
akal itu, berlaku untuk semua hubunganku dengan orang lain. Aku akan diminta
untuk memberi dan menerima dukungan dalam berbagai cara saat aku menjalani
hidup. Keajaiban terjadi ketika aku menyadari potensi terbaikku.
Tetapi kehidupan
selalu mencoba membawaku ke dalam keseimbangan. Jika aku terlalu mandiri, aku
akan menghadapi situasi dimana aku harus bekerja sama agar bisa bertahan hidup.
Jika terlalu tergantung atau pasif, hidup cepat atau lambat akan menjatuhkanku
dari hubungan, pekerjaan, atau harta benda, yang mencegahku untuk bergerak
maju.
Dalam pasang naik
dan surut yang terjadi secara alami dalam minggu-mingguku. Aku membutuhkan
pertolongan. Itulah saat dimana aku menarik batasan, dan batasan itu adalah
tindakan yang pantas. Ketika energiku mengalami pasang surut, itulah saatnya
aku mengubah haluan dari orinetasi memberi ke orientasi menerima. Melakukan
hal-hal yang paling membuatku segar, baik itu berjalan-jalan di alam terbuka,
mendengarkan alunan musik favorit, memainkan sebuah permainan bersama
keponakan, atau cukup dengan memejamkan mata, tidak melakukan apapun, dan menarik
nafas dalam-dalam.
Terkadang aku tidak
tahu diriku yang sesungguhnya. Hal inilah yang membuatku semakin jauh dari
apa yang aku harapkan. Sehingga aku
menerima apa yang tidak aku inginkan. Kekasihku pernah berkata, “Terkadang kamu terlihat seperti
sangat mengerti diriku tetapi disuatu waktu kamu nampak asing bagiku, bahkan
aku seakan tidak mengenal siapa dirimu”. Kata-kata itu seakan menari-nari
indah dan terekam dalam memori otakku.
Aku dan kekasihku
hampir memiliki kesamaan sifat. Kesamaan inilah alasan utama yang membuat pertengkaran itu terjadi, sehingga lama-lama membuat tidak nyaman dan seakan mengarah dalam hubungan yang tidak sehat. Seperti, kesalah-pahaman prinsip, ego, keangkuhan, finansial, keluarga
dll. Dimana aku berperan sebagai seorang wanita yang perasa dan
pemikir, sedangkan dia berperan sebagai seorang pria yang penuh dengan logika.
Apakah dia tahu, bahwa terkadang aku terbujur membisu, di gelapnya malam, di
sudut tempat tidurku, aku menangis. Tanpa dia ketahui hal ini sangat
menyiksaku.
“Tuhan
tidak memberikan apa yang kita inginkan, tetapi Tuhan memberikan apa yang kita
butuhkan.”
Kata-kata diatas
terus aku gali. Apa makna yang sebenarnya dan apa yang aku butuhkan dari dia,
yang terkadang aku merasa tidak menginginkannya. Dan disini akhirnya aku
mengerti, bahwa sesungguhnya aku belajar untuk memahami diriku sendiri melalui dirinya. Sedikitnya, dia cukup tahu bagaimana diriku yang sesungguhnya. Dan ketika
dia mengemukakan pendapatnya tentang diriku, entah itu baik atau buruk. Aku
hanya dapat terdiam. Untungnya kita berdua sama-sama saling mengerti
meskipun sedang berselisih, duduk berdekatan dan membicarakan apa yang
terjadi dengan kepala dingin dan dalam keadaan tenang.
Jika aku
terus-menerus menempatkan perasaanku ke sudut yang gelap, dimana perasaan
tersebut tidak bisa dilihat atau didengar, aku kehilangan sentuhan dengan salah
satu sumber daya batinku yang paling berharga. Tentu saja aku tidak menyarankan
diriku sendiri untuk menuruti setiap keinginan hati atau kemarahan yang membanjiri
otakku, seolah-olah aku melayani seorang anak nakal yang menginginkan semuanya
dengan caranya sendiri. Perasaanku memang dapat terdistorsi dan membuatku jatuh
ketika aku tidak seimbang. Sama pentingnya dengan perasaanku, ada sebuah
paradoks yang harus dihadapi dalam emosiku: “Perasaanku
dapat membimbingku dan juga bisa menyesatkanku, bila aku membiarkannya lepas
kendali”.
Menerima suatu
emosi bukan berarti aku menyetujui apa yang menyebabkanku merasa seperti yang
aku rasakan, menerima suatu emosi artinya aku menerima sebagaimana adanya.
Sering kali aku melawan sesuatu sebagaimana adanya, seolah-olah aku bisa
memutar balik waktu dan mengubah apa yang telah terjadi. Seperti memilih
pasangan yang merugikan hidupku dan seharusnya aku berharap tidak mengenalnya,
kata-kata yang disesali ketika aku memaki-maki kekasihku karna pikiran negatif
yang pernah terucap, atau kabar yang tak terduga yang baru saja sampai,
konsekuensi hal-hal tersebut sudah ada di depanku. Itulah yang membuatku tidak
berdaya dan membawa banyak kepedihan untuk aku hapuskan.
Alih-alih, aku
bisa menggunakan energiku untuk menciptakan solusi. Pada saat aku menerima
perasaan ini, aku telah mengambil sebuah langkah besar menuju penghargaan diri.
Tidak melakukan perlawanan membuatku bebas untuk mengambil tindakan praktis
yang diperlukan untuk membantu diri sendiri dan orang lain. Jika aku
menghalangi perasaanku, aku telah menolak si pembawa pesan sekaligus pesannya.
Kesadaran penuh
adalah metode yang mendorongku untuk menyadari atau menghakimi. Ketika aku
berhati-hati, aku memusatkan perhatian pada apa yang terjadi saat ini. Aku tahu
bagaimana dikuasai oleh perasaan sendiri. Perasaanku dapat secara tiba-tiba
memicu ledakan kenangan yang menyakitkan dari masa lalu atau ketakutan akan
masa depanku. Dan sebelum menyadarinya, aku melakukan perjalanan waktu lagi.
Aku tersesat dalam kisah lain. Alur cerita yang panjang, berkelok-kelok di
dalam kepalaku berperan sebagai kenyataan, tetapi masa lalu sudah berlalu dan
masa depan juga belum terjadi. Tidak satu pun dari hal tersebut yang merupakan
kenyataan. Ketika pikiranku mengembara ke mana-mana dan tidak berada disini
saat ini, aku hanya mengejar bayangan.
Berapa jam aku
hadir dan benar-benar menaruh perhatian terhadap apa yang terjadi di masa kini?
Berapa lama dari hariku (atau malamku) yang aku habiskan untuk merenungkan
peristiwa masa lalu dengan penuh penyesalan atau kerinduan? Seberapa sering aku
tersesat dalam pikiran cemas tentang apa yang mungkin terjadi dalam setengah
jam ke depan, minggu berikutnya, atau tahun depan? Ibuku berkata, “Kamu tidak akan pernah menemukan kedamaian
dengan meratapi masa lalu atau mereka-reka masa depan. Jawaban-jawaban yang
kamu cari selalu ada di masa sekarang, tetapi kamu tidak dapat mengenali
anugerah yang digenggam oleh masa sekarang, bila kamu berputar-putar di tempat
lain”.
Aku butuh menjaga
ketenangan hati. Menjaga ketenangan hati adalah hal yang tidak mudah untuk
memahami mengapa banyak dari diriku ini, mengalami kesulitan dalam menerima
“sebagaimana adanya” dan perasaanku tentang hal itu. Ketika aku melihat apapun
yang tidak nyaman, menyakitkan, atau membuat stress, aku terdorong untuk
mengesampingkannya, melarikan diri, atau dengan putus asa memperbaikinya agar
hal tersebut menghilang. Otakku langsung mengambil kesimpulan tanpa memahami
apa yang sebenarnya terjadi, mendesak reaksi melawan atau menghindar untuk
mengambil alih. Reaksi-reaksi ini menciptakan jeram emosi-emosi negatif yang
terus berbenturan, menumbuhkan lebih banyak agitasi dan lebih banyak hal untuk
ditentang.
Dimana ada
agitasi, tidak akan ada kedamaian, tidak ada kejelasan, dan tidak ada solusi
nyata. Sekarang bayangkan, aku berusaha menemukan sesuatu yang
berharga, yang aku jatuhkan di dasar kolam yang jernih dan tenang. Jika aku
mengacak-ack air kolam tersebut dengan kalut untuk menemukannya, aku hanya akan
mengacaukan kotoran di dasar kolam. Semakin keruh airnya, semakin sedikit yang
dapat aku lihat. Namun, itulah yang sering kali aku lakukan dalam hidupku
sendiri. Impulsku adalah bergerak lebih cepat dan berusaha lebih keras,
menganggap bahwa cara itu akan membawa aku lebih dekat dengan tujuan, tetapi
yang terjadi adalah kebalikannya. Dalam air pada diriku sendiri, aku harus
tetap tenang dalam menemukan harta karun. Aku tidak bisa melihat hal yang
sebenarnya kecuali jika pikiranku tenang.
“Hadapi
pengalaman itu dengan perhatian yang tenang dan tetap terfokus”.
Walaupun mungkin aku tahu bahwa aku
memiliki kecemerlangan di dalam diriku dan bahwa memainkan peran utama dalam
kehidupanku adalah sesuatu hal yang penting. Aku mungkin masih mendapati diri
sendiri berada di suatu tempat diluar panggung utama. Aku menyadari potensiku
yang besar, tetapi aku juga ragu, apakah aku bisa memenuhi ekspektasi agung
tersebut. Aku mulai menjumlahkan kekuranganku dan mulai kehabisan jari untuk
menghitungnya. Aku khawatir tidak mampu menyampaikan anugerah itu.
Jika aku membiarkan ketakutan bahwa aku
tidak akan mampu memenuhi potensi terbesarku, mengendalikan diriku, aku mungkin
akan mendapati diri sendiri melakukan salah satu atau semua dari hal-hal
berikut. Aku mungkin meyakinkan diri sendiri bahwa setiap ide cemerlang yang
aku miliki hanyalah mimpi-mimpi tidak rasional. Aku mungkin mengatakan,
"Siapa? Aku?" dan langsung berlari ke arah lain. Aku mungkin
menurunkan nilai diri sendiri di depan orang lain atau menetapkan ekspekstasi
yang rendah bagi diri sendiri. Aku mungkin berpura-pura lemah atau tidak
terampil sehingga aku tidak harus menghadapi ketakutan dalam mengambil resiko,
melebur dalam kehidupan yang biasa-biasa saja.
Aku mungkin rela bertarung dalam
pertempuran orang lain atau mendukung misi mereka sebagai cara untuk
menghindari kegundahan bila harus bergumul dengan tugas-tugas sendiri. Namun,
strategi-strategi ini tidak pernah berhasil. Tak peduli betapa mulianya sebuah
tugas, jika tugas itu bukan milikku, itu semata-mata merupakan pengalihan
perhatian.
Apakah aku takut akan ledakan dari
kehebatan diri sendiri? Apakah aku merendahkan diri sendiri sehingga aku tidak
harus melakukan apa pun untuk memberikan anugerah-anugerahku? Apakah aku
berusaha melarikan diri dari potensi hebat dengan meyakinkan diri sendiri bahwa
aku tidak berharap untuk memulai proyek karena aku tidak akan mampu
melakukannya "dengan sempurna"?
"Tindakan
lebih besar daripada tidak adanya tindakan. Oleh sebab itu laksanakan tugasmu
dalam hidup. Manusia tidak seharusnya menelantarkan pekerjaannya, walaupun dia
tidak bisa mencapainya dengan sempurna. Karena dalam semua pekerjaan mungkin
ada ketidaksempurnaan, bahkan dalam semua api pasti ada asap."
Semua ini mengarah pada satu paradoks yang
paling luhur dalam hidup. Kita lemah sekaligus hebat. Kita memiliki
keterbatasan manusia dan memiliki potensi manusia super. Kita adalah makhluk
duniawi dan surgawi dan itu menuntut kita untuk memiliki kerendahan hati
sekaligus penghargaan diri dan kebanggaan batiniah yang mendalam pada
anugerah-anugerah di dalam diri kita.
Salah satu pilihan yang paling bijaksana
dan berani yang aku buat adalah mengakui kekuranganku saat ini dan pada saat
yang bersamaan, mengakui kehebatanku. Fakta bahwa aku memiliki kelemahan adalah
sesuatu yang tidak bisa dipungkiri, dan wajar saja kadang-kadang aku merasa
ragu dan tidak berharga. Bahkan mengakui perasaan-perasaan itu adalah sesuatu
yang menyehatkan.
"Keraguan
akan datang dan pergi, tetapi jangan biarkan keraguan itu melumpuhan diriku
sendiri. Alih-alih rangkullah paradoks dan menarilah."







0 comments:
Post a Comment