Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sunday, November 6, 2011

Harmoni Musik Kehidupan


Aku sedang memerankan peran utama dalam kehidupanku.

Saat ini aku sedang berada dalam kelas tari, dimana aku sedang belajar menguasai gerakan demi gerakan. Aku, kamu, mereka adalah murid-murid kehidupan. Memperlajari cara-cara baru untuk bergerak dalam harmoni dengan irama musik kehidupan yang terus berubah. Dengan caraku sendiri, mungkin aku juga merupakan guru, saat aku berbagi apa pun yang aku pelajari dari suatu kehidupan (hitam dan putih) kepada orang lain. Setiap hari, aku mempelajari arti dari menghargai diriku sendiri, menghargai orang lain dan diri terbaikku.

Tergantung pada hari dan tariannya, terkadang aku masih tersandung dan terpeleset dari harmoni. Aku pun juga sempat terhenti, mengambil nafas dalam-dalam beberapa kali, dan kemudian melangkah lagi bersama irama musik. Namun, aku belajar dan itulah yang terpenting. Instruktur (ibuku), yang sangat tegas dan sabar itu, sesekali membujuk dan kadang menyeretku ke lantai dansa. Aku yakin bahwa tarianku akan semakin baik setiap kali aku berlatih. Akan tetapi, aku juga tahu bahwa “aku akan selalu belajar”. Aku akan selalu menguasai langkah-langkah baru untuk menghargai dan mensyukuri anugerah-anugerah yang aku miliki.

Sebuah gambaran klasik yang kadang-kadang digunakan sebagai analogi untuk proses hidup ini, adalah gambaran api (panas) yang menyala di bawah sebuah mangkuk (tubuhku) yang menampung air (pendingin yin dalam diriku). Api memanaskan air dan menciptakan uap, yang mewakili apa yang disebut oleh orang China sebagai ch’i. Ch’i adalah energi pemelihara yang aku butuhkan untuk hidup. Ketika segala hal dalam keadaan tidak seimbang, api menciptakan efek penghangat yang alami. Namun, jika api terlalu panas, air akan mulai mendidih. Jika ini berlangsung lama, panas akan menghabiskan air dan menghamburkan energi yang aku butuhkan. Begitu air menguap, aku benar-benar akan jatuh karena tidak mampu menghasilkan energi lagi.

“Satu bulan, aku merasa bahwa aku punya banyak energi dan bulan berikutnya aku merasa seolah jatuh dari tebing, terbaring di tempat tidur dan tidak bisa bergerak”.

Apakah aku bergerak dengan tangki penuh atau bergerak dengan ilusi bahwa tangkiku penuh? Apakah aku akan membiarkan tangkiku menjadi kosong, sebelum mengisinya lagi, memaksanya untuk berjalan dan karenanya beresiko mogok? Apakah aku membiarkan cahayaku padam karena aku tidak punya minyak yang cukup dalam lampu batinku? Singkatnya, dimanakah aku meletakkan diriku sendiri dalam daftar prioritas hidup?
Bagaimana jika aku membalikkan urutan itu? Bagaimana jika aku terlebih dahulu memastikan lampuku memiliki minyak yang cukup di dalamnya sebelum menyinari jalan bagi yang lain? Bukankah itu akan membantu menjaga agar lampuku tetap menyala dengan terang sehingga aku bisa memberikan lebih banyak cahaya kepada orang lain?

Aku menghargai diri sendiri ketika aku menerima dukungan. Namun, seperti burung-burung dalam migrasi mereka yang panjang dan berat, aku juga harus mengandalkan kekuatan batinku sendiri untuk melewatinya. Melayari paradoks “menerima dukungan dan berjuang sendiri”, memerlukan rasa keseimbangan yang tajam. Bisa jadi ada garis samar antara menerima bantuan dan membiarkan seorang penolong mengontrol hidupku. Aku akan berusaha tetap berada dalam keseimbangan jika aku memastikan diriku memahami dengan jelas, Apa yang aku harapkan dari mereka yang menawarkan bantuan? dan Apa yang mereka harapkan sebagai balasannya? Apapun bentuk bantuan yang diberikan, ingatlah pada akhirnya, akulah yang berhak mengambil keputusan yang langsung berpengaruh pada diriku sendiri.

Aku harus menjadi binatang pemandu dalam hidupku.”

Didalam hubungan yang akrab sekalipun misalnya berpacaran, dimana dukungan timbal-balik seharusnya menyertaiku. Sangatlah penting untuk mencapai keseimbangan antara bersandar pada orang lain dan tetap berdiri tegap di atas kaki sendiri. Di dalam salah satu karya sastra favoritku, dari Kahlil Gibran, seorang penulis Libanon, dia berkata: “Biarkan ada ruang antara kebersamaanmu itu... Bernyanyi dan menarilah bersama, dalam segala suka cita, tapi biarkanlah masing-masing menghayati ketunggalannya, bahkan tali kecapi masing-masing punya hidup sendiri walau lagu yang sama sedang menggetarkannya... Tegaklah berjajar, namun jangan terlampau dekat, bukanlah tiang-tiang candi tidak dibangun rapat, dan pohon ek serta pohon cypress tiada tumbuh dalam bayangan masing-masing”.

Seperti kisahku juga memperlihatkan mengapa kemandirian itu mutlak. Terkadang aku mengeluh kepada ibuku, bahwa aku merasa sangat semangat dalam segala hal, tetapi ketika aku mendapati ada masalah dengan hubunganku, yang tidak lain adalah sumber dukungan dan meneruskan aktivitasku sehari-hari, suasana hati ini senyap. “Apa yang harus aku lakukan?” Aku bertanya. Ibuku yang bijaksana menjawab dengan sebuah analogi yang arif: “Sesekali kamu harus seperti orang yang berjalan melewati hutan dalam gelap bersama seorang teman. Akan datang waktunya ketika dua orang itu harus berpisah dan masing-masing melanjutkan perjalanannya sendirian. Tak seorang pun akan takut terhadap kegelapan jika dia membawa lenteranya sendiri.” Jika situasinya demikian, aku harus mampu mengandalkan diri sendiri untuk menerangi jalanku.

Nasihat yang masuk akal itu, berlaku untuk semua hubunganku dengan orang lain. Aku akan diminta untuk memberi dan menerima dukungan dalam berbagai cara saat aku menjalani hidup. Keajaiban terjadi ketika aku menyadari potensi terbaikku.

Tetapi kehidupan selalu mencoba membawaku ke dalam keseimbangan. Jika aku terlalu mandiri, aku akan menghadapi situasi dimana aku harus bekerja sama agar bisa bertahan hidup. Jika terlalu tergantung atau pasif, hidup cepat atau lambat akan menjatuhkanku dari hubungan, pekerjaan, atau harta benda, yang mencegahku untuk bergerak maju.

Dalam pasang naik dan surut yang terjadi secara alami dalam minggu-mingguku. Aku membutuhkan pertolongan. Itulah saat dimana aku menarik batasan, dan batasan itu adalah tindakan yang pantas. Ketika energiku mengalami pasang surut, itulah saatnya aku mengubah haluan dari orinetasi memberi ke orientasi menerima. Melakukan hal-hal yang paling membuatku segar, baik itu berjalan-jalan di alam terbuka, mendengarkan alunan musik favorit, memainkan sebuah permainan bersama keponakan, atau cukup dengan memejamkan mata, tidak melakukan apapun, dan menarik nafas dalam-dalam.

Terkadang aku tidak tahu diriku yang sesungguhnya. Hal inilah yang membuatku semakin jauh dari apa yang aku harapkan.  Sehingga aku menerima apa yang tidak aku inginkan. Kekasihku pernah berkata, “Terkadang kamu terlihat seperti sangat mengerti diriku tetapi disuatu waktu kamu nampak asing bagiku, bahkan aku seakan tidak mengenal siapa dirimu”. Kata-kata itu seakan menari-nari indah dan terekam dalam memori otakku.

Aku dan kekasihku hampir memiliki kesamaan sifat. Kesamaan inilah alasan utama yang membuat pertengkaran itu terjadi, sehingga lama-lama membuat tidak nyaman dan seakan mengarah dalam hubungan yang tidak sehat. Seperti, kesalah-pahaman prinsip, ego, keangkuhan, finansial, keluarga dll. Dimana aku berperan sebagai seorang wanita yang perasa dan pemikir, sedangkan dia berperan sebagai seorang pria yang penuh dengan logika. Apakah dia tahu, bahwa terkadang aku terbujur membisu, di gelapnya malam, di sudut tempat tidurku, aku menangis. Tanpa dia ketahui hal ini sangat menyiksaku.

“Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, tetapi Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan.”

Kata-kata diatas terus aku gali. Apa makna yang sebenarnya dan apa yang aku butuhkan dari dia, yang terkadang aku merasa tidak menginginkannya. Dan disini akhirnya aku mengerti, bahwa sesungguhnya aku belajar untuk memahami diriku sendiri melalui dirinya. Sedikitnya, dia cukup tahu bagaimana diriku yang sesungguhnya. Dan ketika dia mengemukakan pendapatnya tentang diriku, entah itu baik atau buruk. Aku hanya dapat terdiam. Untungnya kita berdua sama-sama saling mengerti meskipun sedang berselisih, duduk berdekatan dan membicarakan apa yang terjadi dengan kepala dingin dan dalam keadaan tenang.

Jika aku terus-menerus menempatkan perasaanku ke sudut yang gelap, dimana perasaan tersebut tidak bisa dilihat atau didengar, aku kehilangan sentuhan dengan salah satu sumber daya batinku yang paling berharga. Tentu saja aku tidak menyarankan diriku sendiri untuk menuruti setiap keinginan hati atau kemarahan yang membanjiri otakku, seolah-olah aku melayani seorang anak nakal yang menginginkan semuanya dengan caranya sendiri. Perasaanku memang dapat terdistorsi dan membuatku jatuh ketika aku tidak seimbang. Sama pentingnya dengan perasaanku, ada sebuah paradoks yang harus dihadapi dalam emosiku: “Perasaanku dapat membimbingku dan juga bisa menyesatkanku, bila aku membiarkannya lepas kendali”.

Menerima suatu emosi bukan berarti aku menyetujui apa yang menyebabkanku merasa seperti yang aku rasakan, menerima suatu emosi artinya aku menerima sebagaimana adanya. Sering kali aku melawan sesuatu sebagaimana adanya, seolah-olah aku bisa memutar balik waktu dan mengubah apa yang telah terjadi. Seperti memilih pasangan yang merugikan hidupku dan seharusnya aku berharap tidak mengenalnya, kata-kata yang disesali ketika aku memaki-maki kekasihku karna pikiran negatif yang pernah terucap, atau kabar yang tak terduga yang baru saja sampai, konsekuensi hal-hal tersebut sudah ada di depanku. Itulah yang membuatku tidak berdaya dan membawa banyak kepedihan untuk aku hapuskan.

Alih-alih, aku bisa menggunakan energiku untuk menciptakan solusi. Pada saat aku menerima perasaan ini, aku telah mengambil sebuah langkah besar menuju penghargaan diri. Tidak melakukan perlawanan membuatku bebas untuk mengambil tindakan praktis yang diperlukan untuk membantu diri sendiri dan orang lain. Jika aku menghalangi perasaanku, aku telah menolak si pembawa pesan  sekaligus pesannya.

Kesadaran penuh adalah metode yang mendorongku untuk menyadari atau menghakimi. Ketika aku berhati-hati, aku memusatkan perhatian pada apa yang terjadi saat ini. Aku tahu bagaimana dikuasai oleh perasaan sendiri. Perasaanku dapat secara tiba-tiba memicu ledakan kenangan yang menyakitkan dari masa lalu atau ketakutan akan masa depanku. Dan sebelum menyadarinya, aku melakukan perjalanan waktu lagi. Aku tersesat dalam kisah lain. Alur cerita yang panjang, berkelok-kelok di dalam kepalaku berperan sebagai kenyataan, tetapi masa lalu sudah berlalu dan masa depan juga belum terjadi. Tidak satu pun dari hal tersebut yang merupakan kenyataan. Ketika pikiranku mengembara ke mana-mana dan tidak berada disini saat ini, aku hanya mengejar bayangan.

Berapa jam aku hadir dan benar-benar menaruh perhatian terhadap apa yang terjadi di masa kini? Berapa lama dari hariku (atau malamku) yang aku habiskan untuk merenungkan peristiwa masa lalu dengan penuh penyesalan atau kerinduan? Seberapa sering aku tersesat dalam pikiran cemas tentang apa yang mungkin terjadi dalam setengah jam ke depan, minggu berikutnya, atau tahun depan? Ibuku berkata, “Kamu tidak akan pernah menemukan kedamaian dengan meratapi masa lalu atau mereka-reka masa depan. Jawaban-jawaban yang kamu cari selalu ada di masa sekarang, tetapi kamu tidak dapat mengenali anugerah yang digenggam oleh masa sekarang, bila kamu berputar-putar di tempat lain”.

Aku butuh menjaga ketenangan hati. Menjaga ketenangan hati adalah hal yang tidak mudah untuk memahami mengapa banyak dari diriku ini, mengalami kesulitan dalam menerima “sebagaimana adanya” dan perasaanku tentang hal itu. Ketika aku melihat apapun yang tidak nyaman, menyakitkan, atau membuat stress, aku terdorong untuk mengesampingkannya, melarikan diri, atau dengan putus asa memperbaikinya agar hal tersebut menghilang. Otakku langsung mengambil kesimpulan tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi, mendesak reaksi melawan atau menghindar untuk mengambil alih. Reaksi-reaksi ini menciptakan jeram emosi-emosi negatif yang terus berbenturan, menumbuhkan lebih banyak agitasi dan lebih banyak hal untuk ditentang.

Dimana ada agitasi, tidak akan ada kedamaian, tidak ada kejelasan, dan tidak ada solusi nyata. Sekarang bayangkan, aku berusaha menemukan sesuatu yang berharga, yang aku jatuhkan di dasar kolam yang jernih dan tenang. Jika aku mengacak-ack air kolam tersebut dengan kalut untuk menemukannya, aku hanya akan mengacaukan kotoran di dasar kolam. Semakin keruh airnya, semakin sedikit yang dapat aku lihat. Namun, itulah yang sering kali aku lakukan dalam hidupku sendiri. Impulsku adalah bergerak lebih cepat dan berusaha lebih keras, menganggap bahwa cara itu akan membawa aku lebih dekat dengan tujuan, tetapi yang terjadi adalah kebalikannya. Dalam air pada diriku sendiri, aku harus tetap tenang dalam menemukan harta karun. Aku tidak bisa melihat hal yang sebenarnya kecuali jika pikiranku tenang.

“Hadapi pengalaman itu dengan perhatian yang tenang dan tetap terfokus”.

Walaupun mungkin aku tahu bahwa aku memiliki kecemerlangan di dalam diriku dan bahwa memainkan peran utama dalam kehidupanku adalah sesuatu hal yang penting. Aku mungkin masih mendapati diri sendiri berada di suatu tempat diluar panggung utama. Aku menyadari potensiku yang besar, tetapi aku juga ragu, apakah aku bisa memenuhi ekspektasi agung tersebut. Aku mulai menjumlahkan kekuranganku dan mulai kehabisan jari untuk menghitungnya. Aku khawatir tidak mampu menyampaikan anugerah itu.

Jika aku membiarkan ketakutan bahwa aku tidak akan mampu memenuhi potensi terbesarku, mengendalikan diriku, aku mungkin akan mendapati diri sendiri melakukan salah satu atau semua dari hal-hal berikut. Aku mungkin meyakinkan diri sendiri bahwa setiap ide cemerlang yang aku miliki hanyalah mimpi-mimpi tidak rasional. Aku mungkin mengatakan, "Siapa? Aku?" dan langsung berlari ke arah lain. Aku mungkin menurunkan nilai diri sendiri di depan orang lain atau menetapkan ekspekstasi yang rendah bagi diri sendiri. Aku mungkin berpura-pura lemah atau tidak terampil sehingga aku tidak harus menghadapi ketakutan dalam mengambil resiko, melebur dalam kehidupan yang biasa-biasa saja.

Aku mungkin rela bertarung dalam pertempuran orang lain atau mendukung misi mereka sebagai cara untuk menghindari kegundahan bila harus bergumul dengan tugas-tugas sendiri. Namun, strategi-strategi ini tidak pernah berhasil. Tak peduli betapa mulianya sebuah tugas, jika tugas itu bukan milikku, itu semata-mata merupakan pengalihan perhatian.

Apakah aku takut akan ledakan dari kehebatan diri sendiri? Apakah aku merendahkan diri sendiri sehingga aku tidak harus melakukan apa pun untuk memberikan anugerah-anugerahku? Apakah aku berusaha melarikan diri dari potensi hebat dengan meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak berharap untuk memulai proyek karena aku tidak akan mampu melakukannya "dengan sempurna"?

"Tindakan lebih besar daripada tidak adanya tindakan. Oleh sebab itu laksanakan tugasmu dalam hidup. Manusia tidak seharusnya menelantarkan pekerjaannya, walaupun dia tidak bisa mencapainya dengan sempurna. Karena dalam semua pekerjaan mungkin ada ketidaksempurnaan, bahkan dalam semua api pasti ada asap."

Semua ini mengarah pada satu paradoks yang paling luhur dalam hidup. Kita lemah sekaligus hebat. Kita memiliki keterbatasan manusia dan memiliki potensi manusia super. Kita adalah makhluk duniawi dan surgawi dan itu menuntut kita untuk memiliki kerendahan hati sekaligus penghargaan diri dan kebanggaan batiniah yang mendalam pada anugerah-anugerah di dalam diri kita.

Salah satu pilihan yang paling bijaksana dan berani yang aku buat adalah mengakui kekuranganku saat ini dan pada saat yang bersamaan, mengakui kehebatanku. Fakta bahwa aku memiliki kelemahan adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri, dan wajar saja kadang-kadang aku merasa ragu dan tidak berharga. Bahkan mengakui perasaan-perasaan itu adalah sesuatu yang menyehatkan.

"Keraguan akan datang dan pergi, tetapi jangan biarkan keraguan itu melumpuhan diriku sendiri. Alih-alih rangkullah paradoks dan menarilah."



0 comments:

Post a Comment

Power of Dream Slideshow: Aozora’s trip to Semarang, Jawa, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Semarang slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.