Mengapa
menyalahkan diri sendiri atau orang lain menjadi refleks alamiah kita ketika
dihadapkan dengan akhir?
“Dia
menyakitiku, dia mengkhianatiku, dia menipuku” – semua
itu adalah potret dari peristiwa yang mungkin terjadi di suatu ketika dalam
hidupku. Dengan memegang erat cerita itu, dengan mengisahkannya berulang-ulang
dan menghidupkannya lagi, aku menerima apa yang terjadi dalam satu bagian dari
hidup ini sebagai keseluruhan cerita dari hidupku. Tentu saja, penting bagiku
untuk mengingat ketidakadilan ini, baik itu dilakukan terhadapku atau individu
lain, sehingga aku bisa mencegah tindakan tercela itu terjadi lagi. Meskipun demikian,
kisah tentang hal yang terjadi padaku, atau apa yang pernah aku lakukan
terhadap orang lain pada satu waktu, tidak harus menjadi keseluruhan cerita
hidupku. Aku memiliki kekuatan untuk menciptakan cerita baru. Apa yang terjadi
tidak harus menutup hatiku dan mematikan kemampuanku untuk memberi dan menerima
kecuali jika aku bersikeras membiarkannya.
“Mengapa
ini terjadi? Mengapa aku yang mengalaminya? Mengapa sekarang?”
adalah pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan kepada diri sendiri. Aku mungkin
mengetahui jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. Barangkali aku akan mendapatkan
hikmah bahwa semua insiden dimaksudkan untuk mengajariku atau mengandung berkah
yang tersembunyi. Barangkali itu melepaskanku dari sebuah hubungan yang tidak
sehat, membuatku lebih kuat atau mempersiapkan aku untuk membantu orang lain
yang akan menghadapi masalah yang sama. Barangkali apa yang terasa seperti
sebuah penyelamatan diriku dari sebuah kesengsaraan. Atau mungkin perasaan
terluka yang aku pertahankan dapat membantu menyadarkan orang yang menyakitiku
akan perbuatan bodohnya. Bahkan, aku mungkin tidak akan pernah mengerti
penyebab sebuah kejadian itu.
Apa yang dikatakan
atau dilakukan oleh orang lain hanya dapat terus membebaniku jika aku selalu
mengingat kenangan tentang tindakan-tindakan itu, seperti sekantong batu yang
tak berguna, selamanya terikat di punggungku. Betapa lega rasanya jika aku
letakan beban itu dan terus melangkah. Aku dapat melangkah lebih cepat dan
lebih jauh, tanpa beban bahkan aku bisa terbang.
Pada akhirnya
memaafkan adalah cara lain untuk menghargai diri sendiri. Dengan memaafkan, aku
menegaskan bahwa aku lebih besar daripada apa yang dipikirkan orang lain
tentang diriku. Aku juga menegaskan dan ini mungkin tidak gampang bahwa mereka
yang melakukan tindak kejahatan mungkin belum mengetahui bahwa dengan tulus
memaafkan, aku membantumu melihat bahwa itulah hal yang sebenarnya (lebih
besar).
Maka peluang
memaafkan adalah peluang yang menakjubkan bagiku. Apakah aku akan membiarkan
perilaku orang lain yang kekanak-kanakan mendefinisikan diriku saat ini dan
selamanya? Apakah aku akan membiarkan kejadian itu selamanya mendefinisikan
orang yang menyakitiku? Akankah aku memutuskan untuk terus membawa beban itu? Atau
akankah aku meletakkan beban itu, menghargai akhir dan membiarkan diriku
terbang?
Ketika kita
menyakiti orang lain, kita tentu saja harus mengakui dan bertanggung jawab atas
tindakan kita, dan itulah sebabnya kita mempunyai sistem peradilan. Namun kaum
bijak mengatakan “kita tunduk pada sebuah
hukum yang bahkan lebih tinggi, hukum universal yang secara otomatis bekerja di
dalam kehidupan setiap orang ‘hukum
lingkaran”. Jika kita menyemaikan kemarahan dan kebencian, itulah yang
akan kita tuai pada suatu waktu, disuatu tempat. Tradisi dunia sangat jelas
dalam hal ini. Ada yang menggambarkannya sebagai “Karma”, “Hukum sebab akibat”, “Apa yang kamu semai, itu yang kamu tuai”
atau “Setiap perbuatan pasti ada
balasannya”, tetapi semua itu pada prinsipnya sama.
Aku tidak tahu
bagaimana hukum lingkaran itu akan berperan dalam kehidupan orang lain. Bagaimana
dan kapan keadilan ditegakkan tidak selalu berada dalam kekuasaanku. Hal yang
ada dalam kekuasaanku adalah mengembalikan hidupku ke jalur yang seharusnya dan
mengakhiri lingkaran kebencian dan balas dendam di dalam hatiku.
Tidak satupun dari
kita yang menginginkan kebencian dan kekerasan dalam kehidupan kita dan ketika
kita tidak memaafkan, kita adalah orang yang terus menghidupkan hal-hal
tersebut. Aku mengeluh tentang kekerasan dan kebencian yang meningkat di planet
ini, tetapi aku berperan menambah momentum itu setiap kali aku memilih untuk
tidak memaafkan atau untuk membalas kejahatan yang dilakukannya terhadapku
dengan keingingan yang berlipat ganda. Kesalahanku adalah menumbuhkan kebencian
dan kekerasan tersebut.
Kebencian tak akan
pernah berakhir bila dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian akan berakhir
bila dibalas dengan rasa kasih. Inilah satu hukum abadi. Bahkan dalam situasi
yang paling sulit dan menyayat hati, aku memiliki kekuatan untuk mengatakan,
“Momentum
ini berhenti disini”
to be continue...








0 comments:
Post a Comment