Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, November 4, 2011

Phoenix Di Dalam Diri


Mengapa menyalahkan diri sendiri atau orang lain menjadi refleks alamiah kita ketika dihadapkan dengan akhir?

“Dia menyakitiku, dia mengkhianatiku, dia menipuku” – semua itu adalah potret dari peristiwa yang mungkin terjadi di suatu ketika dalam hidupku. Dengan memegang erat cerita itu, dengan mengisahkannya berulang-ulang dan menghidupkannya lagi, aku menerima apa yang terjadi dalam satu bagian dari hidup ini sebagai keseluruhan cerita dari hidupku. Tentu saja, penting bagiku untuk mengingat ketidakadilan ini, baik itu dilakukan terhadapku atau individu lain, sehingga aku bisa mencegah tindakan tercela itu terjadi lagi. Meskipun demikian, kisah tentang hal yang terjadi padaku, atau apa yang pernah aku lakukan terhadap orang lain pada satu waktu, tidak harus menjadi keseluruhan cerita hidupku. Aku memiliki kekuatan untuk menciptakan cerita baru. Apa yang terjadi tidak harus menutup hatiku dan mematikan kemampuanku untuk memberi dan menerima kecuali jika aku bersikeras membiarkannya.

“Mengapa ini terjadi? Mengapa aku yang mengalaminya? Mengapa sekarang?” adalah pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan kepada diri sendiri. Aku mungkin mengetahui jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. Barangkali aku akan mendapatkan hikmah bahwa semua insiden dimaksudkan untuk mengajariku atau mengandung berkah yang tersembunyi. Barangkali itu melepaskanku dari sebuah hubungan yang tidak sehat, membuatku lebih kuat atau mempersiapkan aku untuk membantu orang lain yang akan menghadapi masalah yang sama. Barangkali apa yang terasa seperti sebuah penyelamatan diriku dari sebuah kesengsaraan. Atau mungkin perasaan terluka yang aku pertahankan dapat membantu menyadarkan orang yang menyakitiku akan perbuatan bodohnya. Bahkan, aku mungkin tidak akan pernah mengerti penyebab sebuah kejadian itu.

Apa yang dikatakan atau dilakukan oleh orang lain hanya dapat terus membebaniku jika aku selalu mengingat kenangan tentang tindakan-tindakan itu, seperti sekantong batu yang tak berguna, selamanya terikat di punggungku. Betapa lega rasanya jika aku letakan beban itu dan terus melangkah. Aku dapat melangkah lebih cepat dan lebih jauh, tanpa beban bahkan aku bisa terbang.

Pada akhirnya memaafkan adalah cara lain untuk menghargai diri sendiri. Dengan memaafkan, aku menegaskan bahwa aku lebih besar daripada apa yang dipikirkan orang lain tentang diriku. Aku juga menegaskan dan ini mungkin tidak gampang bahwa mereka yang melakukan tindak kejahatan mungkin belum mengetahui bahwa dengan tulus memaafkan, aku membantumu melihat bahwa itulah hal yang sebenarnya (lebih besar).

Maka peluang memaafkan adalah peluang yang menakjubkan bagiku. Apakah aku akan membiarkan perilaku orang lain yang kekanak-kanakan mendefinisikan diriku saat ini dan selamanya? Apakah aku akan membiarkan kejadian itu selamanya mendefinisikan orang yang menyakitiku? Akankah aku memutuskan untuk terus membawa beban itu? Atau akankah aku meletakkan beban itu, menghargai akhir dan membiarkan diriku terbang?

Ketika kita menyakiti orang lain, kita tentu saja harus mengakui dan bertanggung jawab atas tindakan kita, dan itulah sebabnya kita mempunyai sistem peradilan. Namun kaum bijak mengatakan “kita tunduk pada sebuah hukum yang bahkan lebih tinggi, hukum universal yang secara otomatis bekerja di dalam kehidupan setiap orang ‘hukum lingkaran”. Jika kita menyemaikan kemarahan dan kebencian, itulah yang akan kita tuai pada suatu waktu, disuatu tempat. Tradisi dunia sangat jelas dalam hal ini. Ada yang menggambarkannya sebagai “Karma”, “Hukum sebab akibat”, “Apa yang kamu semai, itu yang kamu tuai” atau “Setiap perbuatan pasti ada balasannya”, tetapi semua itu pada prinsipnya sama.

Aku tidak tahu bagaimana hukum lingkaran itu akan berperan dalam kehidupan orang lain. Bagaimana dan kapan keadilan ditegakkan tidak selalu berada dalam kekuasaanku. Hal yang ada dalam kekuasaanku adalah mengembalikan hidupku ke jalur yang seharusnya dan mengakhiri lingkaran kebencian dan balas dendam di dalam hatiku.

Tidak satupun dari kita yang menginginkan kebencian dan kekerasan dalam kehidupan kita dan ketika kita tidak memaafkan, kita adalah orang yang terus menghidupkan hal-hal tersebut. Aku mengeluh tentang kekerasan dan kebencian yang meningkat di planet ini, tetapi aku berperan menambah momentum itu setiap kali aku memilih untuk tidak memaafkan atau untuk membalas kejahatan yang dilakukannya terhadapku dengan keingingan yang berlipat ganda. Kesalahanku adalah menumbuhkan kebencian dan kekerasan tersebut.

Kebencian tak akan pernah berakhir bila dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan rasa kasih. Inilah satu hukum abadi. Bahkan dalam situasi yang paling sulit dan menyayat hati, aku memiliki kekuatan untuk mengatakan,

“Momentum ini berhenti disini”

to be continue...

0 comments:

Post a Comment

Power of Dream Slideshow: Aozora’s trip to Semarang, Jawa, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Semarang slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.